Abjadiyat
Amaliyah Ramadhan
Subhanallah,
ternyata huruf-huruf hijaiyyah (abjadiyah) yang berjumlah dua puluh delapan
huruf dalam konteks Ramadhan sangat sarat pengetahuan dan nilai.
Penyusun:
Syarifudin,
MA
Editor:
dr.
Sad Widiyanti
Penerbit:
Maktabah
Anisa
Abjadiyat Amaliyah Ramadhan
v Daftar Isi:
v Pendahuluan
..............................................................
v Kata Pengantar Wahyu
Rahman (Direktur Ekskutif BMH) ..........
v Indahnya Bulan
Ramadhan ..................................
v Allahumma
Ballighna Ramadhan ...................................
v Bahagia
menyambut hadirnya bulan Ramadhan ...........................
v Agenda Harian Optimalisasi Amaliyah Ramadhan
v Abjadiyat
Amaliyah Ramadhan ....................................................
1. Huruf Alif
(Iman dan Ihtisab-Beriman dan
Mengharap Pahala)...............................................................
Mengharap Pahala)...............................................................
2. Huruf Ba (Basyarah-Kabar
Gembira) ..................................
3. Huruf Ta
(Tarawih- Shalat Tarawih) ...............................
4. Huruf Tsa
(Tsubut Syahr-Penetapan Bulan) .........................
5. Huruf Jim
(AL-Juud-Berderma)...........................................
6. Huruf Ha
(Hifzhul Jawarih-Menjaga Anggota Tubuh) .......
7. Huruf Kha
(Al-Khuruj minal Manzil-Keluar
dari Rumah) ...............
dari Rumah) ...............
8. Huruf Dal
(Ad-Du'a-Berdoa)
...............................................
9. Huruf Dzal
(Adz-Dzikri-Berdzikir)
.....................................
10. Huruf Ra
(Rukhshatul Fitri (Dispensasi Berbuka) .............
11. Huruf Zay
(Zakatul Fitri-Menunaikan Zakat Fitrah) .........
12. Huruf Sin
(As-Sahur-Makan Sahur)
13. Huruf
Syin (As-Syukru-Bersyukur)
14. Huruf
Shad (Shiyam Shaghir-Membiasakan
Si Kecil Berpuasa) ............................................................
Si Kecil Berpuasa) ............................................................
15. Huruf
Dhad (Ad-Dha'fu-Kondisi Lemah)
16. Huruf Tha
(At-Thuhru-Suci)
17. Huruf Zha
(Az-Zhama-Rasa Haus)
18. Huruf Ain
(Al-Umratu-Menunaikan Umrah)
19. Huruf
Ghain (Al-Ghaflatu-Lalai)
20. Huruf Fa
(Al-Fithru-Waktu Berbuka)
21. Huruf Qaf
(Qiraatul Qur'an-Membaca Al-Qur'an)
22. Huruf Kaf
(Kazhmul Ghaizh-Menahan Marah)
23. Huruf Lam
(Lailatul Qadar-Malam Kemuliaan)
24. Huruf Mim
(Al-Mufthirat-Perkara yang
Membatalkan Puasa)
Membatalkan Puasa)
25. Huruf Nun
(An-Nisyan-Lupa)
26. Huruf Ha
(Al-Himmah Al-'Aliyah-Semangat
Menggelora)
Menggelora)
27. Huruf Waw
(Wada'un Ramadhan-Selamat TInggal
Bulan Ramadhan)
Bulan Ramadhan)
28. Huruf Ya
(Yamnal Hasanah-Berharap Kebaikan)
v Penutup
Pendahuluan
Ahlan wasahlan Yaa
Ramadhan
Bulan Ramdhan telah di
ambang pintu, bulan suci yang penuh
berkah, ampunan, dan kemuliaan. Kedatangannya dirindukan oleh setiap
orang beriman. Berbahagialah bagi
orang-orang yang mendapat kesempatan untuk beribadah di Bulan Ramadhan. Karena
peluang yang begitu besar untuk meningkatkan kualitas diri, keluarga, dan ummat
Islam pada umumnya melalui berbagai
bentuk kegiatan dan ibadah baik yang wajib maupun sunnah (nawafil).
Sebuah kerugian besar
manakala bulan Ramadhan kali ini tidak dimanfaatkan secara maksimal. Oleh sebab
itu dari sekarang perlu memasang niat dan tekad untuk membuat target maksimal
dalam meraih kemuliaan di sisi Allah SWT
baik kemualiaan di dunia maupun
di akhirat.
Adapun ikhtiar yang dapat
dilakukan dalam mengantarkan kita pada capaian target tersebut adalah :
1. Memasang niat untuk melakukan berbagai “aktivitas ibadah” semata-mata karena Allah SWT
2. Menambah pengetahuan ataupun mengkaji ulang hal-hal yang terkait
dengan ibadah shaum
3. Bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah Shaum Ramadhan dengan
menjaga hal-hal yang dapat mengurangi nilai dan kualitasnya.
4. Menjaga sholat jamaah lima waktu dengan menambahkan sholat sunnat rowatib
5. Menegakkan Qiyamullail (taraweh) dari awal hingga akhir Ramadhan
6. Banyak berdzikir, beristigfar, serta berdoa untuk diri sendiri,
keluarga dan ummat Islam secara keseluruhan
7. Memperbanyak membaca Al-qur’an dan mentadabburi maknanya
8. Menunaikan kewajiban zakat, dan memperbanyak berinfaq, dan
bersedekah kepada yang membutuhkan melalui amil zakat resmi seperti: “AMIL
ZAKAT NASIONAL BMH”
9. Beri’tikaf di Masjid Sepuluh hari terakhir untuk menjemput Lailatul
Qadr
Inilah amalan Ramadhan yang
diulas secara singkat tapi padat dalam buku saku ini, semoga dapat mencerahkan
sehingga amalan Ramadhan kita tahun ini lebih baik dari tahun-tahun
sebelumnya.Amiin Ya Rabbal Alamin.
Wahyu Rahman
Direktur Eksekutif BMH
Indahnya
Bulan Ramadhan
Syukur
al-hamdulillah, Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada kita untuk
berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan, semoga kita semua dapat berpuasa sesuai
dengan perintah Allah SWT, dan memanfaatkannya sebagai kesempatan yang berharga
untuk memperbanyak ibadah, amal shalih dan aktivitas lainnya demi meraih ridha Ilahi.
Bulan
Ramadhan adalah bulan yang banyak memiliki keistimewaan, nama yang tidak asing
bagi umat Islam. Sayyidus suhur (penghulu bulan-bulan) adalah merupakan
julukan yang sangat indah, syahru nuzulil Quran, (bulan diturunkannya
Al-Qur'an), syahrut tarbiyah (bulan pendidikan), Syahrul Muwasah
(bulan toleransi dan peduli), dan nama-nama indah lainnya begitu melekat di
telinga kita.
Namun
dari sekian banyak keistimewaan dan keutamaan serta keindahannya, sangat
sedikit dari umat Islam yang menyadari -atau mungkin mereka sadar tapi belum menyentuh
lubuk hati yang mendalam- sehingga saat Ramadhan tiba, tidak tampak wajah
sumringah atau bergembira menyambutnya. Tidak ada antusiasme untuk mengikuti amaliyah
dan ibadah Ramadhan kecuali sekadar menjalankan kegiatan ritual belaka; sekadar
melepas atau menggugurkan kewajiban atau hanya karena adat dan tradisi
serta kebiasaan yang sudah biasa dilakukan pada setiap bulan Ramadhan tiba.
Sehingga setiap kali selesai bulan Ramadhan kepribadian seseorang tidak
meningkat apalagi berubah, namun tetap seperti yang lama, yang berubah hanyalah
umurnya yang terus bertambah menjadi tua dan renta.
Karena
itulah agar puasa dapat optimal, sebelum memasuki bulan suci Ramadhan, setiap kita
hendaknya melakukan persiapan diri
dengan beberapa cara berikut ini:
1. Persiapan Ruhi (spiritual); dengan cara membersihkan hati dari
penyakit yang dapat menggugurkan aqidah dan nilai ibadah, juga agar dapat
melahirkan niat yang ikhlas dalam menjalankan segala aktivitas dan ibadah
Ramadhan, terutama puasa.
2. Persiapan fikri (pemahaman); melalui pembekalan diri dengan
ilmu-ilmu dan pengetahuan agama, terutama yang terkait langsung dengan amaliyah
dan ibadah di bulan suci Ramadhan.
3. Persiapan Jasadi (Fisik); dengan menjaga kesehatan badan dan
anggota tubuh lainnya, menciptakan lingkungan bersih serta mengubah pola hidup
menjadi lebih sehat dan teratur.
4. Persiapan Materi; dengan menyiapkan diri untuk menabung
dan menyisihkan sejumlah dana sehingga dapat memperbanyak infak, memberi ifthar
kepada orang lain dan membantu orang yang membutuhkan.
Dengan
beberapa persiapan tersebut diharapkan seorang muslim mampu menunaikan
aktivitas atau amaliyah di bulan Ramadhan secara optimal dan berhasil
menjadi hamba rabbani baik qobla (pra), atsna’a (pada
saat) dan ba'da (pasca) Ramadhan.
Rasulullah
saw bersabda :
"Andaikan
umatku mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu
tahun itu puasa terus."(Ibnu
Khuzaimah)
Dalam
hadits lain Rasulullah memotivasi umatnya, para pelaku kebaikan atau kejahatan
yang mengikuti Ramadhan dengan baik.
"Bulan
Ramadhan; di dalamnya pintu surga dibuka, pintu neraka di tutup dan
syaitan-syaitan dibelenggu, di dalamnya pada setiap malamnya ada seruan; wahai
para pencari kebaikan marilah kemari, dan wahai para pelaku kejahatan
berhentilah". (Thabrani)
Dalam
hadits nabi yang lainnya juga disebutkan
“Pada
bulan Ramadhan, umatku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada umat
sebelum mereka: (1) bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi
daripada bau minyak kasturi, (2) para malaikat memohonkan ampunan untuk mereka
hingga mereka berbuka puasa, setiap hari Allah menghias surga-Nya lalu berkata
(kepada surga), ‘Hamba-hamba-Ku yang berpuasa hampir menanggung beban dan sakit
agar dapat sampai kepadamu,’ (3) para setan dibelenggu sehingga mereka tidak
leluasa (untuk menggoda manusia) seperti yang biasa mereka lakukan pada bulan
yang lain, dan (5) mereka diberi ampunan pada akhir suatu malam.’ Ditanyakan
kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah, apakah malam tersebut adalah Lailatul
Qadar?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, tapi seorang pekerja akan mendapatkan upah
jika ia telah menuntaskan pekerjaannya.’” (HR Ahmad)
Allahumma
Ballighna Ramadhan
Judul
di atas merupakan penggalan dari hadits Nabi saw sebagai doa beliau ketika
memasuki bulan Rajab dan Sya’ban. Secara lengkap doa yang disampaikan oleh Nabi
saw adalah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ
وَشَعْبَانٍ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya
Allah SWT berkahilah hidup kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah
kami hingga bulan Ramadhan”.
Adapun
nash lengkap hadits seperti yang termaktub dalam Musnad Imam Ahmad adalah
sebagai berikut:
Menceritakan
kepada kami Abdullah, dari Ubalah bin Umar, dari Zaidah bin Abi ar-Raaqod, dari
Ziyad an-Numairi, dari Anas bin Malik berkata ia, Adalah Nabi saw apabila masuk
bulan Rajab, beliau berdoa ; “Ya Allah SWT berkahilah kami di bulan Rajab dan
Sya’ban dan sampaikanlah kami kepada Bulan Ramadhan. beliau selalu berkata,
“Pada malam jumat nya ada kemuliaan, dan siangnya ada keagungan.
Doa
Nabi saw di atas bentuknya umum, yang berarti ketika membaca doa ini, seakan
seorang muslim memohon kepada Allah SWT tiga permohonan;
1. Memohon kepada Allah agar diberikan
panjang umur sehingga dapat memasuki bulan Ramadhan;
2. Memohon kepada Allah SWT agar selain
diberikan usia panjang, juga diberi kemampuan dan kesehatan sehingga dapat
menunaikan aktivitas dan ibadah yang ada pada bulan Ramadhan secara optimal dan
maksimal;
3. Memohon kepada Allah SWT agar –melalui
ibadah Ramadhan- diberikan hidayah dan rahmat, iman dan taqwa, sehingga kelak
–setelah mengikuti amaliyah Ramadhan- menjadi orang-orang yang mendapatkan
keberkahan, ampunan dan terbebas dari api neraka serta meraih berbagai
kenikmatan dan kebahagiaan serta taqwa.
Kenapa
demikian? Karena betapa banyak orang yang tadinya sehat wal afiat, usia ada
namun ketika menjelang Ramadhan tiba, ruhnya diambil oleh yang Maha Kuasa
sehingga tidak dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Dan betapa banyak orang
yang diberikan usia panjang hingga dapat memasuki bulan Ramadhan, namun tidak
dapat menjalankan ibadah dan amaliyah yang ada pada bulan Ramadhan karena
sakit, kondisi fisik yang lemah dan lain-lainnya. Dan lebih mengenaskan lagi,
betapa banyak orang yang diberikan kesempatan hidup, umur panjang, badan sehat
dan fisik kuat, namun tidak mendapatkan keberkahan, kebaikan dan ampunan Allah
SWT; karena tidak ada iman, tidak mampu mengendalikan hawa nafsu, amarah dan
angkara murka serta perkataan dan perbuatan tercela lainnya.
Nabi
saw bersabda:
"Betapa banyak orang yang berpuasa tidak
mendapatkan pahala dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus belaka"
Dalam
hadits lainnya juga disebutkan:
"Telah
datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, di dalamnya
terdapat kebaikan yang meliputi kalian karena Allah (ada di dalamnya), maka
turunlah rahmat, berguguran segala kesalahan dan dosa, di dalamnya doa
dikabulkan, maka Allah melihat semangat berlomba kalian, dan para malaikat
sangat dengan kalian, maka perlihatkan di hadapan Allah yang terbaik dari
jiwa-jiwa kalian, karena sesungguhnya celaka bagi siapa yang diharamkan di
dalamnya rahmat Allah SWT”(Thabrani)
Karena
itu mari senantiasa membaca doa seperti yang diajarkan oleh nabi saw, dan juga
membaca doa yang selalu dipanjatkan oleh para pendahulu kita… semoga Allah SWT
mengabulkannya..
اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ
وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ وَتَسْلِمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً
"Ya
Allah selamatkanlah kami hingga bulan Ramadhan ke depan, dan pertemukan untuk
bulan Ramadhan dan terimalah seluruh amal kami pada bulan Ramadhan”.
Dan
doa yang ada dalam Al-Qur'an:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ
إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
"Ya
Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah
Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari
sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)". (Ali Imran:8)
Bahagia
menyambut hadirnya bulan Ramadhan
"Barang
siapa yang bergembira dan senang menyambut bulan suci Ramadhan, maka Allah SWT
akan mengharamkan jasadnya masuk neraka" (Bukhori dan Muslim)
Sungguh
tidak terkira bahagianya dapat memasuki bulan Ramadhan, karunia yang tiada
terkira bisa bersua kembali dengan bulan yang penuh dengan keberkahan, inilah
kesempatan yang sangat berharga untuk mengembalikan jati diri sebagai manusia
yang dicipta sebagai makhluk paling mulia dari makhluk lainnya dan sarana
meraih derajat yang paling mulia disisi Allah yaitu Taqwa.
Begitulah
yang dilakukan oleh Rasulullah saw menantikan bulan yang penuh berkah. Sejak dua
bulan sebelumnya beliau sudah memohon kepada Allah SWT agar dipanjangkan
usianya sehingga dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Begitu pula para
sahabat, mereka selalu antusias dan bersemangat menantikan hadirnya bulan
Ramadhan. Para tabiin, tabi' tabiin dan para salafussalih lainnya juga demikian;
selalu menantikan hadirnya bulan Ramadhan, bahkan dalam suatu riwayat
disebutkan bahwa hidup mereka dalam setahun dibagi pada dua bahagian; yang
pertama periode pasca Ramadhan dengan memohon kepada Allah SWT agar diterima
segala amal ibadah mereka dan yang kedua periode sebelum Ramadhan (6 bulan
sebelumnya), agar kembali diperkenankan Allah SWT untuk berjumpa dengan bulan
Ramadhan pada masa yang akan datang.
Bahagia
menyambut hadirnya bulan Ramadhan adalah keniscayaan, karena dengan itu ia akan
mempersiapkan diri untuk menyambutnya; baik fisik, mental dan spiritual, harta
dan lain sebagainya, dan setelah itu memberikan semangat untuk mengisi segala
amaliyah dan ibadah Ramadhan secara maksimal dan optimal.
Bahagia
menyambut bulan Ramadhan adalah sunnah dan tidak boleh terpisahkan bagi umat
Islam, karena hal tersebut berarti mensyukuri nikmat yang telah Allah SWT
anugerahkan kepadanya; Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk meraih dan
menggapai berbagai nikmat, pahala dan janji-janji yang telah disediakan pada
bulan tersebut. Nabi bersabda:
"Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan,
diharamkan Allah jasadnya menyentuh api neraka". (An-Nasa’i).
Dalam hadits lain juga disebutkan: "Seandainya umatku
mengetahui keutamaan bulan puasa, tentu mereka akan meminta supaya bulan yang lain
dijadikan puasa selamanya… (Ibnu Majah).
Dan
selain mengucapkan doa saat memasuki bulan Rajab seperti yang termaktub di
atas, menjelang Ramadhan Rasulullah menyampaikan basyarah (kabar gembira)
sekaligus memberikan arahan dan semangat
kepada para sahabatnya terkait dengan bulan Ramadhan. Seperti yang diriwayatkan
oleh Sayyid bin Thawus dan syeikh Shaduq, dengan sanad dari Amirul Mukminin
Umar bin Al-Khattab ra, dia berkata: bahwa Rasulullah saw pada suatu hari
menjelang bulan Ramadhan tiba, beliau berpidato di hadapan kami:
Wahai
manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah SWT dengan membawa berkah
rahmat dan magfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah SWT. Hari-harinya
adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang
paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama. Inilah bulan
ketika kamu diundang menjadi tamu Allah SWT dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan
ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amal mu diterima dan doa-doamu
diijabah. Bermohonlah kepada Allah SWT Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati
yang suci agar Allah SWT membimbingmu untuk melakukan shiyam (puasa) dan
membaca Kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah SWT di
bulan yang agung ini.
Kenanglah
dengan rasa lapar dan haus-mu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara
dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali
persaudaraan-mu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu
memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya.
Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatim-mu.
Bertobatlah kepada Allah SWT dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk
berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika
Allah SWT memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka
ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan
mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai
manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amal-mu, maka
bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu,
maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah! Allah SWT bersumpah
dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang
shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari
manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin (Tuhan semesta alam).
Wahai
manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang
berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah SWT nilainya sama dengan membebaskan
seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat
lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”
Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan
sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan se teguk
air.”
Wahai
manusia! Siapa yang membaguskan akhlaqnya di bulan ini ia akan berhasil
melewati sirathal mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang
meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau
pembantu) di bulan ini, Allah SWT akan meringankan pemeriksaan-nya di hari
kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah SWT akan menahan
murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim
di bulan ini, Allah SWT akan memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahim) di bulan ini, Allah
SWT akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah SWT akan memutuskan
rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat
di bulan ini, Allah SWT akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.
Barangsiapa melakukan shalat fardhu, baginya ganjaran seperti melakukan 70
shalat fardhu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di
bulan ini, Allah SWT akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan
menjadi ringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran,
ganjarannya sama seperti mengkhatamkan Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
Wahai
manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkan
nya kembali bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu
untuk tidak akan pernah dibukakan kembali bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka
mintalah agar ia tak lagi pernah menguasai dirimu kembali. Amirul mukminin
berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama
di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini
adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah SWT”.
Wahai
manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi
penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik
dari seribu bulan; bulan yang Allah SWT telah menjadikan puasanya suatu fardhu,
dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu (sunnah).”
“Barangsiapa
mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya,
sama lah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang
lain.”
“Ramadhan
itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan
itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah SWT
memberikan rezki kepada mukmin di dalamnya.
Barangsiapa
memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu
merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang
yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa
sedikit pun berkurang.” Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua
kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka
bersabda lah Rasulullah saw, “Allah SWT memberikan pahala kepada orang yang
memberi sebutir kurma, atau se teguk air, atau se hirup susu.” Dan barangsiapa
yang memberikan rasa kenyang kepada orang yang berpuasa, maka Allah SWT akan
memberinya minuman dari kolam ku sehingga dia tidak akan haus selamanya sampai
masuk surga.
Dialah
bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan
dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya niscaya Allah SWT
akan mengampuni dosa-dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”
Oleh
karena itu perbanyaklah dengan empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara
untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat
membutuhkannya; Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya
bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan mohon ampun kepada-Nya; sedangkan
dua perkara yang kamu sangat membutuhkannya ialah memohon surga dan
perlindungan dari neraka.
Barangsiapa
memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah SWT memberi minum
kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus
lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (Ibnu Huzaimah).
Duhai
bulan Ramadhan yang penuh berkah
Kuingin
selalu hidup bersamamu
Merentas
jalan menuju Ridha Allah
Menggapai
bahagia sepanjang hidupku
Agenda Harian Optimalisasi Amaliyah Ramadhan
Maksud dari agenda harian ini adalah kiat efektif bagi
kaum muslimin dalam memanfaatkan waktu sebaik mungkin pada saat melewati
hari-hari di bulan Ramadhan, yaitu dengan menunaikan ketaatan dan ibadah atau
aktivitas lain untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berharap ganjaran dan
pahala dari-Nya.
Bahwa satu hari dalam bulan Ramadhan adalah kesempatan
emas dan peluang yang sangat berharga untuk dapat mendekatkan diri kepada
Allah, mulai dari terbit fajar hingga selesai makan sahur di sepertiga akhir
pada malam hari, dengan harapan semua itu menjadi sarana dalam menggapai
bahagia di dunia dan di akhirat .
NO
|
WAKTU
|
AKTIVITAS
|
1.
|
Agenda Setelah Terbit Fajar
|
a. Menjawab
seruan azan untuk shalat subuh
الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ
الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا
الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي
وَعَدْتَهُ "
“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini,
shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan
karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah
Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)
b. Menunaikan
shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat
Rasulullah
saw bersabda:
“Dua rakaat
sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)
“Nabi saw
pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul
huwallahu ahad”.
c.
Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid
–khususnya- bagi laki-laki
Rasulullah
saw bersabda:
“Sekiranya
manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan
mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)
“Berikanlah kabar gembira kepada para
pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari
kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)
d.
Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah
Al-Quran hingga waktu iqamat shalat
Rasulullah
saw bersabda:
“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan
ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)
e.
Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita
untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi
Dalam hadits
nabi disebutkan:
Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat
duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)
Agenda prioritas
Membaca Al-Quran
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat).
(Al-Isra : 78)
Dan memiliki komitmen sesuai kemamampuannya dengan selalu:
- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan
khatam Al-Quran sebanyak 1 kali
- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan
khatam Al-Quran sebanyak 2 kali
- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu
semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.
|
2.
|
Agenda setelah keluar dari masjid atau mushalla
|
a.
Tidur dengan berharap ganjaran di dalamnya
Dalam atsar disebutkan, Muadz bin Jabal berkata:
“Sungguh saya
selalu berharap ganjaran dari Allah pada saat tidur sebagaimana saya selalu
berharap ganjaran ketika berada di tengah kaumku”.
b.
Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat
Rasulullah saw bersabda:
"Setiap
ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika
matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah,
menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan
barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah
sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan
membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah".
(Bukhari dan Muslim)
c.
Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena
Allah
Rasulullah saw bersabda:
“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih
baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari
hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)
Dalam
hadits lainnya nabi juga bersabda:
“Barangsiapa
yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya
jalan menuju surga”. (Muslim)
d.
Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari
Allah berfirman : “Ketahuilah dengan berdzikir
kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)
Rasulullah saw bersabda:
“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah
saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah”
(Thabrani dan Ibnu Hibban) .
|
3.
|
Agenda saat shalat Zhuhur
|
a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu
menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di
Masjid khususnya bagi laki-laki
b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat
dan 2 rakaat setelah Zhuhur
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa
yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan
baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).
|
4.
|
Agenda saat dan setelah shalat Ashar
|
a.
Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian
dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid
b.
Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa
yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan
atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani –
hasan shahih)
c.
Istirahat
sejenak dengan niat yang baik
Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya
bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.
Agenda prioritas:
Membaca Al-Quran dan
berkomitmen semampunya dengan:
- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan
khatam Al-Quran sebanyak 1 kali
- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan
khatam Al-Quran sebanyak 2 kali
- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka
akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.
|
5.
|
Agenda sebelum beduk Maghrib
|
a. Memperhatikan urusan rumah tangga
- melakukan mudzakarah
- Menghafal Al-Quran
b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian
hikmah atau dakwah melalui
media
c. menyediakan bantuan atau ifthar di masjid-masjid
dan di tempat lainnya
d. Menyibukkan diri dengan doa
Rasulullah saw bersabda:
“Doa
adalah ibadah”
|
6.
|
Agenda setelah terbenam matahari
|
a.
Menjawab azan untuk shalat Maghrib
b.
Melakukan ifthar dengan rutab (kurma
basah/muda), kurma secara ganjil atau seteguk air putih dengan berharap
ganjaran dan mengikuti sunnah diiringi dengan doa
Dalam hadits
disebutkan:
Rasulullah
saw jika berbuka selalu membaca: “Telah hilang rasa haus, dan basah
tenggorokan dan ditetapkan ganjaran insya Allah”.
c.
Menunaikan shalat Maghrib secara
berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)
d.
Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2
rakaat
e.
Berkumpul dengan keluarga dalam menyantap makanan
berbuka diiringi dengan syukur atas sempurnanya puasa satu hari penuh
f.
Membaca dzikir sore
g.
Mempersiapkan diri untuk shalat Isya dan sunnah
tarawih dengan berwudhu dan wangi-wangian (khususnya bagi laki-laki) lalu
melangkahkan kaki menuju masjid
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian
berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu
kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan
kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)
|
7.
|
Agenda pada waktu shalat Isya
|
a. Menjawab azan
untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid
b. Menunaikan
shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat
c. Menunaikan shalat tarawih secara
berjamaah secara sempurna di dalam masjid
Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya bagi siapa yang shalat bersama
imam hingga selesai maka ditulis baginya seperti melakukan shalat qiyam
lail”. (Ahlu sunan)
d. Duduk bersama
keluarga/melakukan silaturahim
e. Mendengarkan
ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid
f. Dakwah melalui media atau lainnya
g. Melakukan
mudzakarah
h. Menghafal
Al-Quran
Agenda prioritas
Membaca Al-Quran dengan berkomitmen
sesuai dengan kemampuannya dengan:
- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan
khatam Al-Quran sebanyak 1 kali
- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk
mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali
- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan
maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.
|
8.
|
Agenda pada sepertiga malam akhir
|
a.
Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu
pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya, dan melakukan shalat secara berjamaah
pada 10 malam terakhir
b.
Menunaikan shalat witir jika belum menunaikannya
secara berjamaah
c.
Makan
sahur dengan niat beribadah karena Allah dan menunaikan sunnah
Rasulullah saw bersabda:
“Makan sahurlah kalian, karena dalam sahur
itu ada berkah nya”. (Muttafaqun alaih)
d.
Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah
hingga azan subuh
Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya
Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam
terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku
kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan
barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (Bukhari
Muslim)
|
Ingatlah selalu:
Mengiringi niat yang baik saat melakukan pekerjaan
di sepanjang hari pada bulan Ramadhan
|
||
Apa yang kami jelaskan di sini merupakan
contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan,
kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu
kita untuk optimalisasi ibadah Ramadhan insya Allah. Allahu a’lam
Abjadiyat
Amaliyah Ramadhan
Subhanallah,
ternyata huruf-huruf hijaiyyah (abjadiyah) yang berjumlah dua puluh delapan
huruf dalam konteks Ramadhan sangat sarat pengetahuan dan nilai. Berikut
penulis hadirkan pengetahuan dan nilai tersebut, mulai dari huruf alif hingga
huruf ya' :
حرف الألف
الإِيْمَانُ والإِحْتِسَابٌ
Iman dan Ihtisab (Beriman dan Mengharap Pahala)
Puasa
merupakan ibadah yang istimewa di sisi Allah SWT, bahkan dalam suatu hadits
qudsi dijelaskan bahwa ibadah puasa itu hanya untuk Allah SWT dan Dia sendiri
yang akan langsung membalasnya. Janji-janji ampunan bagi siapa saja yang
melaksanakan puasa dengan dasar imanan wahtisaban (iman yang disertai niat
ikhlas).
Maksudnya
adalah setiap orang hendaknya melandasi dirinya dengan beriman dan berharap
atau memohon pahala dari Allah SWT dan ridha-Nya dalam melaksanakan aktivitas
Ramadhan.
Dan
Allah SWT ketika mengawali perintah-Nya dengan selalu menyeru kepada orang yang
beriman dengan mengawali ungkapan "ya Ayyuhalladzina amanu", seperti
firman Allah SWT:
"Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa". (Al-Baqarah:183)
Dan
dalam ayat-ayat Al-Qur'an setiap kali Allah SWT menyebutkan perintah tentang
kewajiban (perintah atau larangan) secara khusus pasti lebih mendahulukan kata
"Iman" sementara jika memerintah ibadah secara umum lebih
mendahulukan kata "An-Naas". Karena kata iman dapat merupakan
kesiapan orang yang telah beriman untuk melaksanakan kewajiban tersebut,
sekalipun perintah tersebut berat dan membutuhkan tenaga dan harta; seperti
puasa, shalat, zakat dan haji. Adapun jika kewajiban dalam bentuk umum seperti
ibadah kepada Allah SWT, untuk menjelaskan bahwa tugas utama wujud manusia di
dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah SWT dan tunduk terhadap
perintah-perintah-Nya, maka diawali dengan seruan "ya ayyuhannaas". Seperti firman
Allah SWT:
"Hai
manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertaqwa". (Al-Baqarah:21)
Dan
firman Allah SWT:
"Dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku". (Ad-dzariyat:56)
Karena
itu, setiap orang beriman hendaknya melandasi setiap langkah dan aktivitas nya
dengan iman dan ihtisab, karena dengan kedua hal tersebut niscaya segala
langkah dan aktivitas serta ibadahnya akan diterima dan mendapat pahala dari
Allah SWT serta ganjaran yang besar, dan banyak lagi ayat-ayat lain yang
menyebutkan bahwa segala perbuatan yang dilandasi iman maka akan diterima oleh
Allah SWT dan diberi ganjaran yang setimpal, sementara segala perbuatan yang
tidak dilandasi dengan iman maka tidak akan bermanfaat di sisi Allah SWT sebaik
apapun dan sebesar apapun perbuatan yang dilakukannya, ibarat fatamorgana yang
terlihat dari kejauhan seperti air namun ketika di hampiri kosong melongpong.
Allah SWT berfirman:
"Dan
orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang
datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya
air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan)
Allah SWT di sisinya, lalu Allah SWT memberikan kepadanya perhitungan amal-amal
dengan cukup dan Allah SWT adalah sangat cepat perhitungan-Nya". (An-Nuur:39)
Dengan
iman akan memunculkan keikhlasan dalam beramal dan berbuat dan dengan ihtisab
akan memunculkan penyerahan diri kepada Allah SWT atas segala perbuatan dan
berharap kepada Allah SWT Maha Pemberi pahala, ganjaran dan ridha untuk
memberikan balasan yang setimpal. Sebagaimana pula dengan iman sekecil apapun
perbuatannya akan menjadi besar di hadapan Allah SWT dan yakin bahwa Allah SWT
akan melipat gandakan segala perbuatan berlipat ganda, apalagi puasa yang
merupakan amal yang tidak dapat diketahui oleh siapa pun kecuali dirinya dan
Allah SWT, karenanya Allah SWT memberikan ganjaran khusus kepada orang yang
melaksanakan ibadah puasa karena iman dan ihtisab.
Rasulullah
saw. bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه
“Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan berhadap ganjaran
dari Allah SWT maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun alaih)
Dalam
hadits lain disebutkan:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ
مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang melakukan qiyam pada lailatul qadar,
dengan penuh iman dan ikhlas maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu..” (Bukhari)
Aisyah
ra juga berkata:
مَنْ اعْتَكَفَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa
yang beritikaf karena iman dan ikhlas, maka di ampunilah segala dosanya yang
telah lalu."
(Ad-Dailamy)
حرف الباء
البَشَاَرَةُ
Al-Basyarah (Kabar Gembira)
Kita
bersyukur kepada Allah SWT karena telah dipanjangkan usia hingga dapat berjumpa
kembali dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh kabar gembira. Kita masih
diberi kesempatan untuk meraih dan menggapai berbagai pahala dan janji-janji
yang telah Allah SWT sediakan. Sebagaimana Rasulullah saw mengingatkan dalam
sabdanya:
الصَّلَوَاتِ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ
إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ
مَا اجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ
"Shalat
lima waktu, dan jum'at ke jum'at lainnya, dan Ramadhan ke Ramadhan lainnya akan
menggugurkan dosa antara keduanya selama menjauhi dosa besar". (Muslim).
Ketika
memasuki bulan rajab, Rasulullah saw mengajarkan kepada kita sebuah doa berupa
harapan dan permohonan akan keberkahan dan agar Allah SWT memanjangkan umur
hingga dapat masuk dan mengikuti amaliyah Ramadhan dengan sebaik-baiknya;
Rasulullah saw bersabda:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ
وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
"Ya
Allah SWT, berkahilah kami pada bulan rajab dan sya'ban dan sampaikanlah kami
pada bulan Ramadhan"
Hadits
di atas menjelaskan akan permohonan dan doa nabi saw agar diberikan keberkahan
ketika memasuki bulan rajab yang merupakan salah satu bulan yang disucikan dan
dimuliakan Allah SWT, begitu pula meminta keberkahan pada saat memasuki bulan
Sya'ban, karena bulan tersebut merupakan bulan diangkatnya amal-amal setiap
hamba, dan beliau mengakhiri dengan memohon agar disampaikan pada bulan
Ramadhan; berupa usia panjang, kesehatan dan keimanan. Karena dengan tiga perkara
itulah maka setiap hamba niscaya dapat optimal melaksanakan amal ibadah yang
ada dalam bulan Ramadhan.
Dalam
hadits lain juga disebutkan:
إذَا كَانَ أَوَّلُ ليلة من شهر رمضان
صُفِّدَتِ الشياطينُ وَمَرَدَةُ الجنِّ وَغُلِّقَتْ أبوابُ النارِ فلم يُفْتَحْ
منها بابٌ وَفُتِّحَتْ أبوابُ الجنةِ فلم يُغْلَقْ منها بابٌ وَيُنَادِى مُنَاد
ٍكلَّ ليلةٍ يا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ ويا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وللهِ
عُتَقَاءُ من النارِ وذلك كلَّ ليلةٍ
“Jika
pada malam pertama bulan Ramadhan maka setan-setan diikat, jin-jin diusir,
pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka, dan tidak akan ditutup selamanya.
Pada setiap malamnya ada yang menyeru: wahai pelaku kebajikan datanglah. Wahai
pelaku kejahatan kurangilah, dan bagi Allah SWT akan melepaskan hamba-Nya dari
neraka, dan hal itu dilakuka setiap malam Ramadhan.” (Ibnu Majah dan dihasankan oleh Albani)
Begitu
pun dalam hadits lain disebutkan:
إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ
لَهُ الرَّيَّانُ لاَ يَدْخُلُهُ مِنْهُ إلا الصَّائِمُونَ
“Sesungguhnya
didalam surga ada pintu bernama Royyan, tidak ada yang memasukinya kecuali
mereka yang shaum Ramadhan.”
(Muttafaq alaih)
Para
salafus shalih jika memasuki bulan Ramadhan mereka berdoa:
اللَّهُمَّ قَدْ أَظَلَّنَا شَهْرُ
رَمَضَانَ وَحَضَرَ فَسَلِّمْهُ لَنَا وَسَلِّمْنَا لَهُ وَارْزُقْنَا صِيَامَهُ
وَقِيَامَهُ وَارْزُقْنَا فِيْهِ الْجِدَّ وَالاِجْتِهَادَ وَالْقُوَّةَ
وَالنَّشَاطَ وَأَعِذْنَا فِيْهِ مِنَ الْفِتَنِ
“Ya
Allah SWT, Dzat yang telah menaungi kami di bulan Ramadhan, maka jadikan kami
untuknya, anugrahkan kepada kami puasanya dan qiyamnya, anugrahkan pula kepada
kami kesungguhan, kekuatan, kegairahan dan keseriusan, dan jauhkan kami dari
berbagai fitnah di dalam bulan Ramadhan ini".
Dan
banyak lagi kabar gembira yang disampaikan oleh Rasulullah saw khusus bagi
orang yang beriman yang berpuasa, sehingga mereka termotivasi untuk mengisinya
dengan amal kebaikan dan ihsan, menantikan bulan Ramadhan dengan penuh suka
cita.
3
حرف التاء
التَّرَاوِيْحُ
At-Tarawih (Shalat Tarawih)
Di
antara keistimewaan bulan Ramadhan adalah disyariatkannya shalat tarawih; yaitu
shalat qiyam al-lail (shalat malam) yang dilaksanakan ba'da shalat Isya secara
berjamaah.
Shalat
tarawih merupakan shalat sunnah yang hanya dilakukan di malam-malam bulan
Ramadhan, karena itu shalat ini disebut juga dengan qiyam Ramadhan. Pada bulan
ini disamping diwajibkan puasa Ramadhan, Rasulullah SAW juga mensunnahkan qiyam
Ramadhan, dan siapa saja yang yang telah mengerjakan shalat tarawih berarti
sudah mengerjakan qiyam Ramadhan.
Rasulullah
saw bersabda :
إِنَّ
اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ صَِيامَ رَمَضَانَ وَسَنَنْتُ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ
وَقَامَهُ احْتِسَابا خَرَجَ مِنَ الذُّنُوْبِ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Sesungguhnya
Allah SWT mewajibkan puasa Ramadhan dan
aku mensunnahkan shalat pada malam harinya, barangsiapa berpuasa dan shalat
malam dengan mengharap pahala
(keridhaan) dari Allah SWT, maka keluar seluruh
dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya”. (Ahmad)
Adapun
bentuk shalatnya seperti yang disebutkan oleh Aisyah istri Rasulullah saw.
ketika ditanya tentang sifat shalat tarawih Rasulullah saw. pada bulan
Ramadhan. Dia berkata: “Beliau tidak menginginkan pada bulan Ramadhan dan
juga pada waktu lainnya kecuali 11 rakaat, beliau shalat 4 rakaat dan jangan
ditanya akan kekhusyuan dan panjangnya, kemudian shalat lagi 4 rakaat dan
jangan ditanya akan kekhusyuan dan panjangnya kemudian dilanjutkan dengan 3
rakaat.” (Imam Al Bukhari)
Dalam
riwayat lain disebutkan:
إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ
كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
Diriwayatkan
dari Umar bin Khattab, bahwa beliau melaksanakan shalat sunnat tarawih 21
rekaat.
Tarawih
adalah bentuk jamak dari kata tarwih, yang berasal dari kata raha yang
artinya "beristirahat". Shalat ini disebut shalat tarawih, karena
orang yang menjalankan shalat ini mengambil istirahat sejenak setelah selesai
shalat sunnah ba'da isya dua rakaat.
Shalat
tarawih merupakan shalat ma’tsur (shalat yang pernah dicontohkan oleh
Nabi SAW ) yang biasa dikerjakan secara berjama’ah di Masjid oleh kaum muslimin
selepas shalat Isya.
Nabi
SAW sangat menganjurkan umatnya agar tekun mengerjakan qiyam Ramadhan, seperti
yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, katanya: adalah Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang
siapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman (membenarkan janji-janji
Allah SWT) dan ihtisaban (mangharap ridha Allah SWT dan pahala) niscaya
diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu” (Bukhari dan Muslim).
Sebagaimana
Rasulullah SAW pernah mengerjakan pada malam kedua atau ketiga secara
berjama’ah dengan para sahabatnya, kemudian pada malam berikutnya beliau tak
hadir ke masjid, karena beliau khawatir
shalat ini menjadi amalan yang diwajibkan atas mereka. Kemudian setelah itu
para sahabat mengerjakannya secara furada (sendiri-sendiri). Namun
akhirnya shalat tarawih dengan berjama’ah ini dihidupkan kembali oleh Umar ra.
yang bertindak sebagai Imam adalah Ubay bin Ka’ab.
Hukum
shalat tarawih adalah sunnah muakkadah (yang sangat dianjurkan) oleh Rasulullah
SAW. hal ini berdasarkan hadits di atas.
Dan
Qiyam Ramadhan atau shalat tarawih dikerjakan dengan berjama’ah sesuai dengan
tuntunan nabi saw dan telah dicontohkan oleh Umar bin Khattab yang telah
menghidupkan kembali shalat tarawih secara berjama’ah dimasjid nabawi saat itu.
Oleh karena itu, jumhur ulama (mayoritas ulama) berpendapat sunnah
mengerjakan shalat tarawih dengan berjama’ah.
Dalam
Riwayat Bukhari diceritakan shalat tarawih yang dipimpin oleh Ubai Bin Ka’ab
tidak menyebutkan perihal jumlah rakaat. Oleh karena itu para ulama berbeda
pendapat tentang banyaknya rakaat shalat tarawih sekaligus dengan witirnya,
apakah 11 (sebelas) rakaat atau 13 (tiga belas) rakaat atau 21 (dua puluh satu)
rakaat.
Diriwayatkan
dari Jabir, katanya : “Bahwa Rasulullah SAW pernah mengerjakan shalat berjam’ah
dengan mereka sebanyak 8 rakaat, kemudian mengerjakan shalat witir 3 rakaat.
Barangsiapa yang melakukan shalat tarawih sebanyak 23 rakaat maka hal itu juga
pernah dilakukan oleh para sahabat pada masa khlaifah Umar seperti yang telah diriwayatkan oleh sejumlah
ulama, sedangkan kita diperintahkan untuk mengikuti Sunnah khulafur Rasyidin
Al-Mahdiyyin”.
4
حرف الثاء
ثُبُوْتُ الشَّهْرِ
Tsubut Syahr (Petetapan Bulan)
Bulan
Ramadhan, ditetapkan masuk dan keluarnya melalui penampakan hilal (bulan
sabit).
Rasulullah
saw bersabda:
لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا
الْهِلالَ وَلا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا
لَهُ
“Janganlah
kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal dan jangan berbuka sehingga
kalian melihat hilal, dan jika terjadi kesamar-samaran maka hitunglah baginya
(hingga kehari 30). Dan dalam riwayat lain: “Lengkapilah hingga 30 hari.” (Muttafaq alaih).
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan ijma Ulama bahwa tidak boleh bergantung pada
hisab dalam menentukan hilal. (Majmu fatawa syaikh bin Baz, 4/174)
Seorang
muslim hendaknya berpuasa mengikuti negara di mana dia tinggal, begitupun
dengan berbuka, sebagaimana sabda Rasulullah saw:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ
وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
“Puasalah
pada hari kalian berpuasa dan berbuka pada hari kalian berbuka sementara Idul
Adha pada saat kalian berkurban.” (Tirmidzi dan ditashih oleh Al-Albani)
حرف الجيم
الجُوْدُ
Al-Juud (Berderma)
Dengan
shaum umat Islam dikondisikan untuk merasakan kepedihan orang dhu’afa dan miskin;
lapar, dahaga, dan yang sakit sepanjang tahun. Ramadhan sebagai titik tolak
munculnya sifat peduli dan solidaritas
Dalam
hadits Rasulullah saw. dari Abdullah bin Abbas, berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه
وسلم- أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِى
رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جَبْرَيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ، وَكَانَ جَبْرَيلُ
يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ
النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- الْقُرْآنَ. فَإِذَا لَقِيَهُ جَبْرَيلُ كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ
الْمُرْسَلَةِ.
“Bahwa
Rasulullah saw merupakan manusia paling dermawan terhadap kebaikan, dan
kedermawanannya meningkat saat masuk bulan Ramadhan, dan ketika Jibril mentalaqqi
nabi, dan jibril selalu mentalaqqinya setiap malam bulan Ramadhan hingga
selesai membaca Al-Qur’an, dan ketika dijumpainya, nabi paling dermawan dalam
kebaikan dari pada angin yang bertiup.” (Bukhari)
Dalam
bulan Ramadhan umat Islam juga diajak untuk memiliki kepedulian terhadap sesama
umat manusia, terutama umat Islam, sehingga ada perasaan empati dan mau
mensyukuri terhadap nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan kepadanya.
Bahwa
mensyukuri nikmat tidak hanya sekadar mengucapkan tahmid (al-hamdulillah) dan
syukur (As-Syukru lillah), dan mengabdikan diri kepada Allah SWT sehingga
terjalin hubungan erat kepada Allah SWT, namun juga dengan memberikan sebagian
rezki kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Dan dari situlah akan
terjalin hubungan yang erat hubungan manusia kepada sesama.
Berderma
beda dengan zakat, karena zakat merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh
orang yang telah memiliki nishab dan haul dari harta yang dimiliki, namun
berderma tidak hanya khusus bagi orang kaya, tapi selain orang kaya pun dapat
melakukannya. Karena itulah Rasulullah saw memotivasi sahabatnya untuk berderma
dengan memberi makan kepada orang yang berpuasa sehingga mendapatkan pahala
dari orang yang berpuasa tersebut. Dalam haditsnya beliau bersabda:
Siapa
saja yang pada bulan itu memberikan makanan berbuka kepada orang yang puasa,
maka perbuatan itu menjadi pengampunan atas dosa-dosanya, kemerdekaan dirinya
dari api neraka, dan ia mendapatkan pahala seperti pahala orang berpuasa yang
diberinya makanan berbuka itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu”.
Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, tidak semua dari kami memiliki makanan
berbuka untuk orang-orang yang berpuasa”.
Rasulullah
saw. pun menjawab: “Allah SWT memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan
sebutir korma sekalipun atau sekadar se teguk air atau se hirup susu. Bulan
Ramadhan ini adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya
adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Siapa saja yang
meringankan beban dari orang yang dikuasainya (hamba sahaya atau bawahannya),
niscaya Allah SWT mengampuni dosanya dan membebaskannya dari api neraka.
حرف الحاء
حِفْظُ الْجَوَارِحِ
Hifzhul Jawarih (Menjaga Anggota Tubuh)
Saat
berpuasa seorang muslim diwajibkan menjaga anggota tubuh dari maksiat dan dosa,
memelihara dari amalan yang dapat mengurangi dan menghilangkan pahala ibadah
puasa.
Rasulullah
saw. bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ
حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa
yang tidak mampu meninggalkan perkataan dosa dan dia melakukannya, maka Allah
SWT tidak membutuhkan dia unutk meninggalkan makan dan minum.” (Bukhari)
Imam
al-hafidz ibnu Hajar mengatakan bahwa shaum tidak diterima jika dibarengi
dengan perkataan dan tindakan dosa.
Oleh
karena itu hendaknya kita menjaga tubuh kita dari kemaksiatan, mengkondisikan
akal untuk tidak berfikir kecuali berfikir taat kepada Allah SWT, tidak membawa
hati kecuali pada kabaikan kaum muslimin dan muslimat, dan mengkondisikan kedua
mata atau kedua telinga atau lisan dengan apa yang dicintai.
Allah
SWT berfirman:
“Dan
orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan
Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah SWT
benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69)
Puasa
di bulan Ramadhan adalah merupakan ajang untuk takhalli (menghilangkan
diri dari perbuatan dosa dan maksiat), tahalli (menghiasi diri dari
perbuatan baik), dan tajalli (mengagungkan Allah SWT dalam berbagai
kesempatan dan tempat) bagi orang-orang yang berjalan menuju kepada-Nya.
Dan
bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan Rahmat, ampunan (maghfirah) dan
jaminan seorang hamba terlepas dari siksa neraka, bahkan dilengkapi pula pada
sepuluh akhir Ramadhan dengan lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih istimewa
dari seribu bulan.
Sebagaimana
puasa yang bermakna al-imsak (menahan diri) tidak sekadar menahan rasa lapar
dan dahaga saja, namun juga harus menahan al-jawarih wal bathin (perilaku raga
dan hati) dari hal-hal yang dapat mengurangi, mengotori dan bahkan
menghilangkan pahala puasa. Baik dari ucapan, pendengaran, penglihatan, kedipan
mata, gerakan tangan, langkah kaki hingga pada perasaan hati. Karena itulah
untuk mencapai maqam puasa yang benar-benar sempurna sangatlah sulit, harus
memenuhi berbagai langkah dan tingkatan, sehingga wajar kalau puasa merupakan
ibadah yang paling berat yang tidak dapat ditunaikan bagi siapa yang memiliki
derajat salik ilal huda (pejalan menuju hidayah).
حرف الخاء
الخُرُوْجُ مِنَ الْمَنْزِلِ
Al-Khuruj
Minal Manzil (Keluar Dari Rumah)
Pada
bulan Ramadhan umat Islam –laki-laki dan perempuan- sangat dianjurkan untuk
keluar dari rumah-rumah mereka untuk menunaikan shalat tarawih di masjid,
mendengarkan ta’lim dan lain-lainnya.
Di
malam-malam Ramadhan umat Islam sanagt dianjurkan melaksanakan ibadah shalat
tarawih, tadarus, bahkan menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan mendirikan
shalat malam yang diiringi dengan dzikir dan i'tikaf.
Bahkan
pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan lailatul Qadar, yaitu malam
yang lebih istimewa dari seribu bulan, umat Islam lebih ditekankan untuk
tinggal di masjid untuk I'tikaf di dalamnya yang bertujuan untuk lebih optimal melaksanakan
ibadah ritual serta melakukan perenungan dan introspeksi terhadap apa saja yang
telah diperbuat pada masa lalu dan merencanakan perbaikan di masa yang akan
datang. "Barangsiapa yang beritikaf karena iman dan ikhlas, maka di
ampunilah segala dosanya yang telah lalu." (Bukhari dan Muslim yang
bersumber dari 'Aisyah ra.)
Khusus
bagi kaum hawa, jika pada hari dan bulan biasa mereka tidak disarankan untuk
keluar rumah melaksanakan ibadah shalat secara berjamaah di masjid, maka pada
hari-hari di bulan Ramadhan Rasulullah menganjurkan mereka untuk keluar untuk
melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid, mengikuti kajian, tadarus
Al-Qur'an dan amalan-amalan lainnya.
Rasulullah
saw. bersabda:
لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ
الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ
“Janganlah
kalian melarang istri-istri kalian ke masjid, namun di rumah lebih baik bagi
mereka.” (Abu
Daud ditashih oleh Al-Albani)
Namun
bagi muslimah yang ikut keluar rumah untuk melaksanakan ibadah di masjid harus
tetap melaksanakan hijab syar’i, sebagaimana yang disebutkan para ulama;
menutupi seluruh badan, tidak menampakkan perhiasan, tidak tipis sehingga
tembus padang, tidak ketat sehingga menampakkan lekuk tubuh, tidak mengumbar
wewangian serta tidak menyerupai laki-laki dan laki-laki tidak menyerupai
perempuan, tidak menyerupai orang-orang kafir, dan juga tidak berpakaian yang
mengumbar syahwat”.
Karena
itu, jangan sia-siakan malam-malam yang agung di tempat-tempat pusat
perbelanjaan, dan tempat-tempat tiada guna, janganlah lewatkan waktu-waktu
berharga pada malam bulan Ramadhan pada perbuatan yang tidak bermanfaat dan
sia-sia. Jadikanlah detik-detik di malam bulan Ramadhan untuk berdzikir kepada
Allah SWT, menit-menitnya untuk tadarus Al-Qur'an dan waktu-waktunya untuk
taqarrub kepada Allah SWT.
Ramaikanlah
masjid dengan dzikir, tadarrus dan shalat qiyam, terutama pada saat malam-malam
terakhir, semua keluarga diharapkan dapat keluar dari rumah menuju masjid untuk
lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beri'tikaf di masjid; menghidupkan
malam untuk menggapai keistimewaan lailatul qadr.
حرف الدال
الدُّعَاءُ
Do’a (Berdoa)
Allah
SWT. berfirman:
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku,
niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan
diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”.
Dan
dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
إنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa
adalah otak ibadah”.
(Ahmad dan yang lainnya, dan ditashih oleh Al-Albani)
Allah
SWT menyediakan bagi umatnya waktu dan tempat yang mustajab untuk berdoa;
seperti waktu dari shalat jum'at hingga ashar, antara adzan dan iqamat, ketika
mengusung jenazah, dalam keadaan terdesak, ketika dalam perjalanan, pada
pertengahan malam dan waktu-waktu lainnya. Begitu pun Allah SWT menyediakan
tempat yang mustajab dalam berdoa; seperti berdoa di Multazam, berdoa di dalam
masjid dan tempat-tempat lainnya.
Puasa
merupakan saat-saat hamba dekat dengan Allah SWT maka doanya akan dikabulkan
oleh Allah SWT bagi hamba yang berdoa pada saat berpuasa, terutama pada saat
menjelang berbuka, sebagaimana nabi saw bersabda:
دَعْوَةُ الصَّائِمِ لاَ تُرَدُّ
"Doa orang berpuasa tidak akan di tolak".
Karena
itu jangan lewatkan saat-saat berharga pada bulan yang dimuliakan ini dengan
bersungguh-sungguh berdoa dan bersimpuh dihadapan Allah SWT., dan meminta
kepada-Nya dari dua kebaikan; dunia dan akhirat, khususnya pada saat-saat
mustajabah dan seperti yang disampaikan oleh Rasulullah saw:
“Orang
yang berpuasa hingga berbuka, orang yang sedang dalam perjalanan, orang tua
terhadap anaknya, muslim kepada sesama muslim dari kejauhan, antara azan dan
iqomat, pada sepertiga malam terakhir, pada waktu bersujud, pada saat turun
hujan, dan pada akhir waktu hari jum’at.”
Ikhlas
dalam berdoa, bersuara lembut dan tidak tergesa-gesa serta yakin dengan pengkabulan
do’a
adalah prasyarat diterimanya doa seseorang, ingatlah hadits nabi saw:
إنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ ،
يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ إذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
“Sesungguhnya
Tuhan kalian selalu hidup dan Maha dermawan, akan malu dari hamba-Nya jika
mengangkat kedua tangannya, memohon kepada-Nya, kemudian Allah SWT tidak
mengkabulkannya.”
(Abu Daud dan ditashihkan oleh Al-Albani)
Begitu
pula jangan terlalu lemah dalam berdoa. Rasulullah saw. bersabda:
“Orang
yang paling lemah adalah yang lemah saat berdoa dan orang yang bakhil adalah
orang yang tidak mau mengucapkan salam.” (Baihaqi dan ditashih oleh Al-Albani)
حرف الذال
الذِّكْرُ
Dzikir (Mengingat Allah SWT)
Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, berdzikir lah
(dengan menyebut nama) Allah SWT, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi
dan petang. Dialah
yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu),
supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan
adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman". (Al-Ahzab:41-43)
Kita menyadari bahwa diberikannya kesempatan untuk
dapat memasuki bulan Ramadhan adalah merupakan anugerah tiada terhingga,
karenanya selain diperintahkan untuk berpuasa, shalat tarawih, tadarus adalah
berdzikir sebanyak-banyaknya kepada Allah SWT. Sehingga tidak ada waktu yang
terlewatkan dengan sia-sia kecuali untuk kebaikan.
Kadang kala pada bulan Ramadhan dan berpuasa manusia
cenderung lemah dan tidak semangat, apalagi ketika terik matahari,
kecenderungan orang yang berpuasa adalah tidur atau istirahat. Sekalipun itu
adalah baik, namun bagi orang yang ingin mendapatkan derajat yang mulia di sisi
Allah SWT maka tidak akan membuang kesempatan yang baik di bulan kecuali untuk
berdzikir, jika berada dalam kondisi kepayahan karena berpuasa pada siang yang
terik. Mereka ingat akan firman Allah SWT:
"Kepunyaan Allah SWT-lah kerajaan langit dan
bumi, dan Allah SWT Maha Perkasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat
tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat
Allah SWT sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan
Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka
peliharalah Kami dari siksa neraka". (Ali
Imran:189-191)
Pada
bulan Ramadhan yang mulia kita diarahkan untuk memperbanyak dzikir, jangan pernah bosan
lisan ini untuk berdzikir kepada Allah
SWT, dalam kondisi apapun,
bahkan saat melaksanakan pekerjaan kantor, pekerjaan rumah, belajar dan
lain-lainnya sekalipun. Yang demikian mentauladani Rasulullah saw, seperti yang
diriwayatkan oleh Ummul Mukiminin, Aisyah ra, dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ
“Bahwa
Nabi saw selalu berdzikir kepada Allah SWT setiap saat.” (Muslim)
Dan
bergembiralah dengan hadits nabi saw yang lain, nabi bersabda:
ثَلاَثَةُ لاَ يَرُدُّ اللهُ
دُعَاءَهُمْ: الذَّاكِرُ اللهُ كَثِيْراً وَالْمَظْلُوْمُ وَالإِمَاُم الْمُقْسِطُ
“Tiga
perkara yang tidak ditolak doanya oleh Allah SWT; Orang yang selalu (banyak)
berdzikir, orang yang teraniaya dan imam yang adil.” (Baihaqi dan ditashih oleh Al-Albani)
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لا إِلَهَ إِلاَّ
اللَّهُ ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ
“Seutama-utama
dzikir adalah kalimat “La ilaha illAllah SWT dan seutama-utama doa adalah
al-hamdulillah.”
(An-Nasa’I ditashih oleh Al-Albani)
أَفْضَلُ الْكَلاَمِ سُبْحَانَ اللَّهِ
وَالْحَمْدُ للَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
“Sebaik-baik
ucapan adalah subhanAllah SWT, al-hamdulillah wa laa ilaha illAllah SWT, wAllah
SWTu akbar.”
(Ahmad ditashih oleh Al-Albani)
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى
اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ،
سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
“Dua
kalimat yang ringan dalam lisan namun berat dalam timbangannya dan dicintai
oleh yang Maha Rahman: “SubhanAllah SWT wa bihamdihi subhannAllah SWTil adzim.” (Bukhari)
مَثَلُ الَّذِى يَذْكُرُ رَبَّهُ
وَالَّذِى لاَ يَذْكُرُ مَثَلُ الْحَىِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan
orang yang berdzikir kepada Allah SWT dan orang yang tidak berdzikir adalah
seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (Bukhari)
حرف الراء
رُّخْصَةُ الْفِطْرِ
Rukhsah Al-Fitri (Dispensasi Berbuka)
Allah SWT berfirman:
"Maka Barangsiapa di antara kamu ada yang sakit
atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa)
sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi
orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar
fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan
hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa
lebih baik bagimu jika kamu mengetahui".
(Al-Baqarah:184)
Di
antara kemudahan ajaran Islam adalah Allah SWT memberi dispensasi dan keringanan bagi
musafir untuk berbuka pada siang hari di bulan Ramadhan, baik baginya
berat berpuasa atau tidak berat.
Dari
Hamzah bin Amru Al-Aslami ra, berkata: “Wahai Rasulullah saw: Saya mendapati
bapak saya kuat untuk berpuasa saat musafir, maka apakah itu dosa? Nabi
bersabda:
هِيَ رُخْصَةٌ مِنْ اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ فَمَنْ أَخَذَ بِهَا فَحَسَنٌ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصُومَ فَلَا جُنَاحَ
عَلَيْهِ
“Itu merupakan keringanan dari Allah SWT, maka
bagi siapa yang mengambil maka baik baginya dan bagi siapa yang suka untuk
berpuasa maka tidak ada dosa atasnya.” (Muslim)
إنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ
تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ
“Sesungguhnya
Allah SWT mencintai orang yang mengambil rukhsah yang diberikan, sebagaimana
Allah SWT membenci orang yang melakukan maksiat.” (Muslim)
Syaikh
Abdul Aziz bin Baz berkata: “Bahwa yang utama bagi orang berpuasa adalah
berbuka secara mutlak jika dalam perjalanan, namun bagi yang ingin berpuasa
dipersilahkan dan tidak ada dosa atasnya. Tidak ada perbedaan antara orang yang
musafir dengan menggunakan mobil, atau unta, atau perahu dan kapal laut, dan
antara orang yang musafir dengan menggunakan pesawat terbang, karena semuanya
mencakup bagian dari musafir yang boleh mengambil rukhsahnya”. (Majmu’
fatawa, syikh bin Baz, 4/178, ringkasan)
Selain rukhsah diberikan kepada orang yang musafir,
juga diberikan kepada orang yang sakit, wanita hamil tua dan dikhawatirkan
mengganggu bayi yang dikandungnya jika tetap berpuasa, wanita yang sedang
menyusui dan orang yang sudah lanjut usia dan tidak sanggup lagi berpuasa.
حرف الزاي
زَّكَاةُ الْفِطْرِ
Zakat Al-fitri (Menunaikan
Zakat Fitrah)
Allah
SWT. mensyariatkan zakat fitrah sebelum ditunaikan shalat ied.
Rasulullah
saw. bersabda:
زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً
لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ ، وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ ، فَمَنْ
أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاةِ ، فَهِيَ زَكَاةٌ ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاةِ
، فَهِيَ صَدَقَةٌ
“Zakat
fitrah untuk membersihkan jiwa orang yang berpuasa dari laghwu (senda gurau)
dan rafats (perkataan kotor), dan memberikan makan kepada orang-orang miskin,
bagi siapa yang menunaikannya sebelum shalat maka ia merupakan zakat fitrah yang
makbul dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat ied, maka ia merupakan
shadaqoh biasa.”
(Baihaqi dan ditashih oleh Al-Albani).
Dalam
hadits lain juga disebutkan, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Sashri dan
Ad-Dailami dari ibnu Jarir, nabi saw bersabda:
إِنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ
بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لاَ يُرْفَعُ إِلاَّ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ
"Sesungguhnya
bulan Ramadhan bergantung antara langit dan bumi, dan tidak dapat dilepaskan
kecuali dengan zakat fitrah". (Ad-Dailamy dari Ibnu Jarir)
Dinamakan
dengan zakat fitrah karena zakat tersebut dikeluarkan pada hari berbuka (hari
raya). Fitr itu sendiri artinya adalah berbuka (tidak berpuasa). Sedangkan
fungsi zakat fitrah itu sendiri adala sebagai berikut : Menghapus hal-hal yang
membuat puasa kita kurang bermaksa seperti rafats
(emlakukan hal-hal yang sia-sia). Sebagai
hidangan bagi orang miskin pada hari raya yang penuh suka cita.
Sebagai
landasan kewajiban zakat fitri adalah
hadits riwayat Muslim dan Jamaah dari Ibnu Umar ra artinya : “Sesungguhnya Rasulullah saw telah mewajibkan zakat
berkenaan dengan berakhirnya shaum Ramadhan
berupa 1 Sho’ kurma atau fakir miskin penerimanya gandum atau setipa orang
merdeka atau sahaya lelaki atau wanita dari kaum muslimin”.
Sementara
itu ketentuan pembayaran zakat fitrah berupa beras sebanyak 2,5 kg atau 3,5
liter perjiwa. Atau berupa uang yang besarnya sesuai dengan harga beras yang
dikonsumsi sehari-hari. Misalnya : beras yang biasa dikonsumsi seharga Rp.
3000,- perliter maka fitrah berupa uang sebesar Rp. 3000,- X 3,5 liter besar =
Rp. 10.500,- perjiwa.
Pada
dasarnya zakatul fitri berupa bahan makanan pokok di negeri yang bersangkutan
sebanyak 2 sho’ atau 2.176 gram (2,2 Kg). Boleh dipandang baik (mustahab)
memberi tambahan dari kadar tersebut, jika dimaksudkan unutk ihtiyati (kehati-hatian) mengenai equevalen sha’ dengan kilogram dan
menunjang santunan ke fakir miskin agar lebih mencukupi dan efektif.
Boleh
mengeluarkan zakat fitri dengan uang jika lebih bernilai guna bagi fakir miskin
penerimanya, terlepas apakah lebih memudahkan bagi pihak pembayar zakat atau
tidak. Sebagaimana difatwakan oleh para ulama sekarang ; juga diriwayatkan oleh
Hasan Al-Bisri dan Umar bin Abdul Aziz.
Untuk
kembali ke ashalah dan khurujan
anil khilaf (keluar
dari khilaf) sangat ditekankan mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk qut (bahan
makanan pokok, beras) dan sadapat mungkin dengan kualitas terbaik.
Sebaiknya
zakat fitrah sudah dikeluarkan/dikumpulkan dua hari sebelum hari raya,
sebagaimana yang dilakukan sebagian sahabat. Diantaranya ibnu Umar ra. Hal ini
jelas akan menunjang realisasi ighnaul
masakin pada hari
fitri dan melancarkan penanganannya.
Boleh
mengelurkan zakat di ta’jil (dipercepat) sejak awal-awal Ramadhan dan
melancarkan penanganannya masih boleh/sah mengeluarkan ba’da subuh hari raya
tapi sebelum shalat iwd. Jika sesudahnya, maka kedudukannya bergeser dari zakat
fitri yang fardhu menjadi shadaqoh yang sunnah. Hal ini berdasarkan hadits
sebagai berikut : “Siapa yang menunaikan
sebelum ied, maka merupakan zakat yang diterima, sedang yang mengeluarkan
sesudah shalat ied maka kedudukannya hanyalah berupa shadaqah sunnah”.
Ketika
terjadi perbedaan dalam penanggalan akhir Ramadhan/1 Syawwal, maka yang jadi
pertimbangan sah tidaknya
zakatul fitri yang
dikeluarkan adalah sesuai dengan penanggalan yang dianut oleh muzakki. Yang bersangkutan data mengeluarkan sendiri kepada para mustahiqqin, atau mewakilkannya kepada suatu panitia sebagai suatu
penerima amanah. Baik penerimanya berlebaran pada hari yang sama dengan muzakki
ataupun berbeda, tujuannya thu’mah lil masakin atau menyantuni fakir
miskin tetap tercapai. Mempertimbangkan
kesamaan hari raya agar sesuai dengan perintah Rasul saw : “Cukuplah mereka dari meminta-minta pada hari ini”. Adalah afdhal, tanpa ada para mustahiqqin
sekitarnya yang karenanya terlantar.
Sejalan
dengan hal tersebut, maka bagi suatu panitia zakatul fitri yang berhari raya
lebih dahulu dari sebagian masyarakat, dapat dilakukan hal-hal berikut :
Pertama :
tidak menerima zakat fitrah setelah panitia melaksanakan shalat ied, jika dapat
memberikan penjelasan tanpa mengundang fitnah dengan mereka /masyarakat
sekitar.
Kedua :
menerimanya kemudian segera menyalurkannya kepada para mustahiqqin yang
bersamaan dengan iednya dengan muzakki.
Zakat
fitrah sudah diterima oleh mustahiq atau wakilnya (bukan amil zakat) sebelum
shalat ied. Adapun penyerahan dari wakil kepada mustahiqnya tidak diharuskan
sebelum shalat ied.
Adapun
diantara hukum-hukumnya adalah:
1. Wajib atas setiap jiwa seorang muslim
untuk mengeluarkannya, dan juga anggota keluarganya dari anak-anaknya,
istri-istrinya dan pembantunya (atau orang yang berada dibawah tanggungannya).
2. Pembantu yang memiliki kewajiban
berzakat atas dirinya namun disunnahkan bagi orang mengambilnya sebagai
pembantu untuk membayarkannya.
3. Besarnya zakat adalah satu sha’ dari
makanan pokok suatu negeri; seperti tamr, sya’ir, bur (gandum), dzurrah
(jagung) atau aruz (beras). Satu sha’ sama dengan 3 kg.
4. Orang yang yang berada dalam kandungan
tidak diwajibkan mengeluarkannya namun disunnahkan.
5. Sunnahnya didistribusikan langsung
kepada orang-orang miskin di daerah tempat muzakki tinggal dan tidak
memindahkannya ke daerah lain.
6. Boleh mengeluarkannya satu atau dua
hari sebelum idul fitri, atau pada malam ke 28 dan ke 29
حرف السين
السَّحُوْرُ
As-Sahur (Makan Sahur)
Rasulullah
saw bersabda:
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا
وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
“Perbedaan antara puasa kami dan puasa ahlu kitab adalah
makan sahur.”
(Muslim)
تَسَحَّرُوا، فَإِنَّ فِي السُّحُورِ
بَرَكَةً.
“Bersahurlah,
karena dalam sahur itu ada berkah.” (Muttafaq alaih)
السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ
تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى المُتَسَحِّرِينَ
“Sahur
makannya adalah barakah, maka jangan tinggalkanlah walau hanya menikmati dengan
satu tegukan air, karena Allah SWT dan malaikat-Nya selalu bersama orang-orang
yang makan sahur.”
(Ahmad dan di hasankan oleh Al-Albani)
Dan
sunnah sahur adalah dita’khirkan:
ثَلاَثَةٌ مِنَ النُّبُوَّةِ :
تَعْجِيلُ الإِفْطَارِ ، وَتَأْخِيرُ السُّحُورِ ، وَوَضْعُ الْيَدِ الْيُمْنَى
عَلَى الْيُسْرَى فِى الصَّلاَةِ.
“Tiga
hal yang merupakan akhlak nabi saw: Mensegerakan berbuka, mengakhirkan sahur
dan meletakkan tangan diatas tangan kiri dalam shalat”. (Thabrani dan di shahihkan oleh
Al-Albani)
Dari
Zaid bin Tsabit berkata:
تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ
كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً
“Saat
kami sahur bersama Rasulullah saw kami bangkit untuk menunaikan shalat, saya
berkata: Berapa jeda antara keduanya, dia berkata: 50 ayat.” (Muslim)
نِعْمَ السُّحُورُ التَّمْرُ
“Sebaik-baik
sahur adalah tamar (Kurma).”
(Ibnu Hibban dan di shahihkan oleh Al-Albani)
13
حرف الشين
الشُّكْرُ
As-Syukru (Bersyukur)
Allah SWT berfirman:
"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah
kamu mengagungkan Allah SWT atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya
kamu bersyukur". (Al-Baqarah:185)
Syukur adalah bentuk pujian dan apresiasi terhadap
anugerah dan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita. Dan syukur adalah
merupakan bukti pengakuan kita kepada Allah SWT yang telah memberikan dan
melimpahkan nikmat yang tiada terhingga.
Jika kita telusuri lebih mendalam, maka akan kita akan
dapat menemukan begitu banyak nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan kepada
manusia, dan karena banyak Allah SWT mengingatkan kepada manusia bahwa mereka
tidak akan mampu menghitungnya,
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu)
dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat
Allah SWT, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu,
sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah SWT)". (Ibrahim:34)
Adapun beberapa nikmat yang nampak di hadapan manusia
dan dirasakan olehnya adalah sebagai berikut; nikmat menjadi manusia
(At-tiin:4), (Al-Isra:70), nikmat komunikasi (Ar-RahmanL 3-4), Ar-Ruum:22),
nikmat hidup bersama alam (Al-Mulk;3-5), (Al-Qashash:73), (Al-Hajj:65), nikmat
Reazki (Ar-Ruum:50), (Ar-Rahman:10-12), nikmat sehat; sehat fisik
(As-Syu'ara:79-80), sehat batin (Al-Jumu'ah:2), nikmat Al-Qur'an (Yunus:57),
nikmat memiliki keturunan (Al-Furqan:74), nikmat rasa aman (Al-A'raf:97-99),
nikmat Islam (Al-Hujurat:17) dan
nikmat-nikmat lainnya.
Allah SWT berfirman:
"Segala
puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam"
Al-hamdulillah
Robbil 'alamin adalah apresiasi rasa syukur yang tulus dari seorang anak
manusia karena merasa mendapatkan perhatian penuh sepanjang hidupnya dari Rabb
sekalian alam. Dia menciptakan manusia dengan perangkap lengkap yang
memungkinkannya untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya; Dia buka pintu-pintu
rezki untuk seluruh makhluk-Nya tanpa meminta mereka untuk membayar atau
memberikan sesuatu apapun kepada-Nya; dan Dia juga mengajak manusia untuk
meniti jalan menuju kenikmatan tanpa batas di surga-Nya.
Selain rasa
ungkapan syukur, Al-hamdulillah yang meluncur dari lisan juga merupakan
ekspresi kekaguman dan luapan kebahagiaan seseorang saat melihat perhatian
Allah yang sangat tinggi kepada seluruh makhluk-Nya meskipun si pengucap tidak
langsung merasakan nikmat tersebut.
Ekspresi kekaguman
hati, apresiasi lewat lisan, menginternalisasi nikmat-nikmat ke dalam jiwa,
maupun mengembangkannya dalam kehidupan tidak mungkin terwujud kalau kita tidak
mampu membaca nikmat-nikmat Allah. Ia bermula dari kemampuan membaca nikmat.
Membaca nikmat Allah
Jika kita
telusuri lebih mendalam, maka akan kita akan dapat menemukan begitu banyak
nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada manusia, dan karena banyak Allah swt
mengingatkan kepada manusia bahwa mereka tidak akan mampu menghitungnya,
"Dan Dia
telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan
kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu
menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat
mengingkari (nikmat Allah)". (Ibrahim:34)
Adapun
beberapa nikmat yang nampak di hadapan manusia dan dirasakan olehnya adalah
sebagai berikut; nikmat menjadi manusia (At-tiin:4), (Al-Isra:70), nikmat
komunikasi (Ar-RahmanL 3-4), Ar-Ruum:22), nikmat hidup bersama alam
(Al-Mulk;3-5), (Al-Qashash:73), (Al-Hajj:65), nikmat Reazki (Ar-Ruum:50),
(Ar-Rahman:10-12), nikmat sehat; sehat fisik (As-Syu'ara:79-80), sehat batin
(Al-Jumu'ah:2), nikmat Al-Qur'an (Yunus:57), nikmat memiliki keturunan
(Al-Furqan:74), nikmat rasa aman (Al-A'raf:97-99), nikmat Islam (Al-Hujurat:17) dan nikmat-nikmat lainnya.
Pembagian syukur:
1.
Syukur
i'tiqadi; syukur dalam mengapresiasi nikmat iman yang telah Allah anugerahkan
kepada manusia, melalui pengenalan diri kepada sifat dan asma Allah.
2.
Syukur qauli;
syukur dalam mengapresiasi nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada manusia
melalui lisan dan ucapan, membaca doa pada setiap kali mengakhiri perbuatan.
3.
Syukur amali;
syukur dalam rangka mengamalkan ibadah yang telah diperintahkan Allah dengan
sebaik-baiknya, menggunakan harta yang telah diberikan pada jalan yang
disyariatkan, tidak menghamburkannya dan tidak untuk dijadikan menghalangi
orang yang berjalan di jalan kebenaran.
Syukur akan berbuah
nikmat
Allah SWT
sungguh sangat penyayang. Nikmat yang diberikan kepada kita akan Dia tambah
berbanding lurus dengan apresiasi kita terhadap nikmat-Nya... karenanya Allah
SWT mengingatkan kepada manusia dalam firman-Nya:
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih". (Ibrahim:7)
Dan dalam surat Ar-Rahman disebutkan:
"Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
Ayat tersebut disebutkan berulang-ulang
oleh Allah hingga 31 kali, dimana Allah SWT telah banyak menyebutkan berbagai
nikmat, sehingga tidak ada bagi seorang manusia untuk mengingkarinya kecuali
harus bersyukur dan bersyukur.
Salah
satu bukti syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah dianugrahkan kepada
kita adalah, tidak menggunakan anugrah itu pada hal-hal maksiat, seperti
berlebih-lebihan.
Kebanyakan
kita menyiapkan diri menyambut Ramadhan dengan membeli beragam jenis makanan
dan minuman yang tidak didapatkan di luar bulan Ramadhan.
Begitupun kaum ibu-ibu, sibuk
mempersiapkan bulan Ramadhan dengan berbagai macam makanan untuk berbuka yang
melebihi kebutuhan keluarga sehingga akhirnya terjadi tabzhir atau berlebihan.
Padahal
yang seharusnya dilakukan adalah pertengahan, sebagaimana firman Allah SWT:
“Makan dan minumlah dan jangan
berlebih-lebihan karena sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang yang
berlebih-lebihan.”
(Al-A’raf: 31)
Dan
ingat, bahwa dengan bersyukur Allah SWT. akan menambah kenikmatan lainnya.
Sebagaimana Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih.”
(Ibrahim:7)
حرف الصاد
صِيَامُ الصَّغِيْرِ
Shiamus
Shagir (Membiasakan Si Kecil Berpuasa)
Berusahalah
memotivasi anak-anak untuk berpuasa, dan memberikan teladan yang baik kepada mereka untuk shalat. Sehingga
kelak jika sudah baligh dan telah wajib atas mereka, mereka tidak merasa mendapatkan
beban yang berat.
Bahwa
para sahabat –seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim- mengajarkan
anak-anak mereka yang masih kecil untuk berpuasa, dan membuatkan mereka
permainan dari kulit, jika mereka bertanya tentang makanan, merengek meminta makanan, maka diberikan permainan
sehingga membuat mereka lupa dan dapat menyempurnakan puasanya.
Al-hafizh
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam hal tersebut ada alasan syar’i, yaitu
melatih anak-anak kecil untuk berpuasa.
Mengantarkan
anak untuk berpuasa dan memahami maknanya, memang bukanlah pekerjaan mudah.
Keberhasilan yang kita harapkan memerlukan persiapan sejak jauh hari. Kiat-kiat
yang bisa dilakukan orang tua, untuk merancang pola pendidikan terbaik buat
anak selama bulan Ramadhan antara lain adalah :.
1.
Mengenalkan Ramadhan agar anak terkondisi dengan datangnya bulan Ramadhan.
Jauh
sebelum Ramadhan datang, orang tua hendaknya rajin mengumpulkan kisah-kisah
menarik seputar Ramadhan. Pilihkanlah kisah-kisah sahabat dan perjuangan
Rasulullah yang berhasil di bulan Ramadhan. Pengalaman-pengalaman masa kecil
orang tua pun akan sangat menyenangkan bagi anak-anak jika dikisahkan satu atau
dua pekan sebelum datangnya Ramadhan. Melakukan pengkondisian menyambut
Ramadhan juga dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman yang memadai tentang
keutamaan Ramadhan. Jika pengkondisian ini dilakukan berulang-ulang sejak
sebelum Ramadhan tiba, sangat mungkin akan tumbuh niat yang kuat pada anak
untuk berpuasa Ramadhan.
2.
Menyambut Ramadhan dengan Keriangan dan Keceriaan
Rasulullah
telah menasehati Abdullah bin Mas’ud untuk menyambut Ramadhan dengan wajah yang
berseri tidak cemberut. Keriangan atau keceriaan dapat diciptakan misalnya
dengan mengajak anak untuk mengikuti acara-acara penyambutan Ramadhan dengan
berpawai keliling membawa poster-poster atau seruan-seruan bulan Ramadhan.
3.
Mempersiapkan jadwal khusus buat anak
Perubahan
jadwal sehari-hari selama Ramadhan juga memerlukan persiapan, agar tidak
mengagetkan. Membiasakan anak bangun sahur, misalnya, bukan hal yang ringan.
Orang tua perlu merancang cara khusus dan istimewa untuk membuat anak mau
membuka mata dengan gembira. Misalnya dengan menyediakan menu sahur yang
istimewa. Waktu sahur sebaiknya diakhirkan (kira-kira satu atau setengah jam
menjelang shalat subuh) sebagaimana anjuran Rasulullah.
4.
Menjalankan ibadah dengan gembira.
Perasaan
senang tanpa tekanan dalam beribadah sangat penting bagi anak. Kondisikan
lingkungan bermain dan kehidupan sehari-hari si anak dengan menyenangkan
sehingga anak akan tertarik untuk mulai turut mencoba. Misalnya dengan
mengundang kawan-kawan dekatnya berbuka puasa di rumah. Mengajak anak-anak
untuk meramaikan syiar Ramadhan dengan sholat tarawih berjamaah di masjid,
mengaji dan mengkaji Quran, menyimak ceramah-ceramah agama, menyuruh mereka
mengantar makanan ke masjid untuk orang yang berbuka puasa, lebih menggemarkan
berinfak, shadaqah dan lainnya. Stimulusi anak dengan pahala dan surga yang
dijanjikan Allah untuk orang yang giat
beribadah selama bulan Ramadhan.
5.
Memberikan alternatif pengisian waktu yang positif kepada anak
Untuk
mengalihkan perhatian anak-anak dari rasa lapar, bisa menggunakan berbagai
jenis permainan. Sejak di jaman kehidupan Rasulullah saw, para sahabat muslimah
telah merancang kreativitas bagi putra-putrinya, khusus untuk menggembirakan
hati mereka agar melupakan waktu yang terasa berjalan lambat selama berpuasa.
Seperti nampak dalam sebuah kisah, ketika Rasulullah Saw mengutus seseorang
pada hari Asyura ke perkampungan orang-orang Anshar dan berkata, “Siapa yang
pagi ini shaum hendaklah ia shaum dan menyempurnakan puasanya. Maka kami pun
menyempurnakan puasa hari itu dan kami mengajak anak-anak kami shaum. Mereka
kami ajak ke masjid, lalu kami beri mereka mainan dari benang sutra. Jika
mereka menangis minta makan kami berikan mainan itu sampai datang waktu
berbuka.” (HR Bukhari-Muslim)
6.
Melatih berpuasa dengan bertahap
Melatih
puasa pada anak dapat dilakukan dengan bertahap, misalnya mengijinkan anak
berbuka sampai jam 10, lalu jam 12 dan seterusnya sampai akhirnya penuh sampai
waktu berbuka. Berikan penghargaan dan pujian untuk anak yang sabar. Jika
memungkinkan berikan hadiah yang mendidik misalnya, berupa alat-alat belajar.
Terhadap anak yang baru berlatih puasa (belum kuat dan gampang terpengaruh),
sebaiknya mereka dijauhkan bermain dari anak-anak yang malas berpuasa. Dekatkan
dengan anak-anak lainnya yang tekun berlatih.
Demikian
ibu Nadia, perhatian yang intens dan cara-cara yang bijak dalam mempersiapkan
dan menjalankan ibadah selama Ramadhan Insya Allah akan dapat menggugah
kesadaran anak-anak untuk berpuasa dan beribadah lain dengan gembira. Selamat
Berpuasa, semoga keberkahan Ramadhan akan ibu dan keluarga dapatkan. Amiin….
Sumber : www.suara-islam.com
حرف الضاد
الضَعْفٌ
Ad-Dha’fu (Kondisi Lemah)
Diantara
syarat untuk dapat berpuasa adalah sehat jasmani; yaitu memiliki kekuatan untuk dapat menjalankan ibadah puasa pada hari itu.
Namun jika kondisi tubuh lemah karena sakit, atau karena hamil atau menyusui
yang dikhawatirkan membahayakan diri wanita tersebut atau janinnya, maka
dibolehkan untuknya berbuka dengan kewajiban meng-qadhanya pada hari lainnya.
Hal tersebut dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwanya: “Hukum
orang yang hamil yang berat baginya berpuasa adalah seperti orang yang sakit,
begitupun terhadap wanita yang sedang menyusui, maka dibolehkan pada dua
kondisi tersebut untuk berbuka, sebagaimana firman Allah SWT:
“Maka bagi siapa yang sakit atau dalam
perjalanan maka hendaklah –berbuka- dan menggantinya pada hari-hari lain.” (Al-Baqoroh:185)
Sebagian
sahabat nabi saw berpendapat, bagi wanita dalam dua kondisi di atas
menggantinya dengan fidyah (memberi maka kepada fakir miskin sebanyak hari yang
ditinggalkan) dan tidak perlu meng-qadhanya.
Adapun
siapa yang lemah, tidak mampu berpuasa karena sakit yang tidak ada harapan
untuk sembuh maka baginya boleh berbuka (tidak puasa) dengan syarat
menggantinya dengan fidyah, memberi makan fakir miskin. Allah SWT berfirman:
“Dan bagi siapa yang tidak mampu maka
hendaknya membayar fidyah berupa makan kepada fakir msikin.” (Al-Baqoroh:186)
Ibnu
Abbas berkata:
“Telah
diringankan bagi orang yang sudah lanjut usia yang tidak mampu berpuasa dengan
berbuka dengan memberikan fidyah setiap hari untuk orang miskin.” (Fatwa Islam Tim Permanen,
2/138-ringkasan).
Adapun
ketentuan antara kewajiban qadha dan tidak oleh karena udzur adalah sebagai
berikut:
Fidyah
atau Qadha Puasa(Mengganti
Puasa dengan Fidyah)
Fidyah
artinya penebus (kesalahan). Yaitu suatu kewajiban memberi makan seorang miskin
dari orang-orang yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan.
Firman Allah SWT: "Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya
(jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah (yaitu) memberi makan seorang
miskin " (QS-2-184).
Sementara
itu maksud dari qadla adalah mengganti puasa yang ditinggalkan pada bulan
Ramadhan pada hari lain diluar bulan Ramadhan.
Bagi
mereka yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan, dapat dikelompokkan kedalam empat
bagian :
1.
Tidak
wajib fidyah namun wajib qadha saja.
Hal
ini berlaku bagi orang yang tidak puasa karena sakit, musafir (melakukan
perjalanan jauh), haidh, nifas, pingsan, tidak berpuasa karena takut puasanya
akan membahayakan dirinya, baik karena sakit atau karena menyusui anak, atau
karena berbuka pada hari ke-30 bulan Ramadhan, karena menyangka hanya 29 hari.
2.
Wajib
Qadha dan wajib fidyah.
Hal
ini belaku bagi mereka yang meninggalkan puasa karena hamil, yang hamilnya itu
khawatir pada keselamatan kandungannya atau karena sedang menyusui anak yang
merasa khawatir terhadap keselamatan anak susuannya.
Demikian
pula berlaku bagi orang yang menunda qadha puasa Ramadhan baik seluruh ataupun
sebagian hingga menjelang bulan Ramadhan kembali tanpa ada udzur atau halangan
untuk tidak mengqadhanya.
3.
Tidak
wajib qadha tetapi wajib fidyah.
Hal
ini berlaku bagi mereka yang tidak puasa, karena usia yang terlalu lanjut dan
tidak sanggup lagi untuk menunaikannya, atau karena sakit kronis yang tidak
bisa diharap kesembuhannya menurut keterangan dokter yang mengobatinya.
Dalam
riwayat lain, Ibnu Abbas berkata : "Telah diberi kelonggaran (rukhshah)
bagi orang yang sangat tua apabila ia berbuka, memberi makan (fidyah), dan
tidak ada kewajiban meng-qadha atasnya" (HR Daruquthni dan Al-Hakim).
Juga
termasuk kepada orang-orang yang harus membayar fidyah bagi yang tidak sanggup
menjalankan ibadah puasanya itu adalah orang-orang yang bekerja keras untuk
penghidupannya (misalnya menarik becak, kuli angkut pelabuhan dan
pekerjaan-pekerjaan berat yang menuntut kekuatan fisik lainnya), orang yang
jika berpuasa akan sakit, dan orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh.
Orang yang membayar fidyah ini tentu saja tidak wajib lagi melakukan qadha
puasa.
4.
Wajib
qadha dan wajib membayar kifarat.
Hal
ini berlaku bagi mereka yang batal akibat pergaulan seks atau senggama disiang
hari bulan Ramadhan, baik perbuatan itu menyebabkan keluar mani atau tidak.
Sebagaimana terdapat dalam hadits nabi saw (yang diriwayatkan imam Bukhari), “Kifarat
itu ada tingkatan, pertama dengan memerdekakan hamba sahaya, jika tidak ada,
maka dengan cara kedua dengan diwajibkan puasa dua bulan berturut-turut, dan
bila tidak sanggup, maka cara yang ketiga agar memberi makan 60 orang miskin”.
حرف الطاء
الطُهْرٌ
Ath-Thuhru (Suci)
Khusus
bagi wanita, bahwa di antara permasalahan yang harus diperhatikan dengan baik
dan seksama saat bulan Ramadhan adalah suci dari haid atau nifas. Di antara
inti permasalahan tersebut adalah:
Jika
wanita melihat dirinya sudah bersih dan masih terdapat tanda keruh atau
kekuning-kuningan setelah suci maka hal tersebut tidak tertolak dari shalat dan
ibadahnya, dan hal tersebut merupakan tanda kesucian yang tampak bagi wanita
yang disebut dengan “putih bersih”, karena itu jika wanita melihatnya –tanda
keruh atau kekuning-kuningan- merupakan tanda berakhirnya haid atau nifas dan
mulai suci kembali (fawaid fatawa tahummu al-mar’ah al-muslimah, syaikh ibnu
Jibrin, hal 59, ringkasan)
Hal
tersebut seperti yang diungkapkan oleh Ummu Athiyah, beliau berkata:
كُنَّا لَا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ
وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا
“Kami
yang menganggap warna keruh dan kekuning-kuningan setelah suci sedikitpun
sebagai haidh”. (Abu
Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Jika
wanita mendapatkan kesucian pada saat siang hari di bulan Ramadhan, maka atas
memegang pada pendapat yang benar dari dua pendapat para ulama, yaitu tetap
berbuka dan atasnya qadha pada hari lain. (Majmu fatawa bin Baz; 4/213)
Jika
wanita mendapatkan kesuciannya sebelum fajar; maka diharuskan atasnya berpuasa
dan tidak terhalang dirinya dari mengakhirkan mandi bersuci hingga terbit
fajar, namun tidak boleh mengakhirkannya hingga terbit matahari bahkan wajib
atasnya bersuci dan menunaikan shalat sebelum terbit matahari, begitu pula bagi
yang junub. (fatawa syaikh bin Baz, dalam fatawa Islamiyah; 2/147)
Bagi
wanita dibolehkan menggunakan obat pencegah haid saat haji karena khawatir
datang bulang, namun harus melalui konsultasi dokter spesialis terlebih dahulu
demi keselamatan jiwanya, begitupula pada bulan Ramadhan jika dirinya senang
berpuasa bersama-sama umat Islam lainnya. (Fatawa Lajnah Daimah, Fatawa
Islamiyah; 1/241)
17
حرف الظاء
الظَّمَأُ الْحَقِيْقِيُّ
Dhama’
Hakiki (Rasa Haus)
Dalam
berpuasa hendaknya kita selalu merenungkan hadits nabi saw. yang dalam sabdanya
disebutkan:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ
صِيَامِهِ إِلاَّ الظَّمَأُ ، وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ
إِلاَّ السَّهَر
“Betapa
banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala dari puasa kecuali hanya
dahaga, dan betapa banyak orang yang melakukan qiyam (shalat tarawih) tidak
mendapatkan pahala qiyam kecuali letih saja.” (Ad-Darimi, dan Al-Albani berkata:
Isnadnya Jayyid)
Sadarilah,
bahwa kerugian besar bagi orang yang tidak mampu membawa jiwanya berpuasa dari
dosa-dosa. Ingatlah jika kita merasa haus saat berpuasa, maka haus yang
sebenarnya adalah rasa dahaga pada hari kiamat, pada saat orang merasa rugi dan
menyesal. Sungguh, keselamatan bagi orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah saw., yaitu menahan
rasa haus dari dosa. Nabi saw bersabda:
إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ
مَنْ مَرَّ عَلَيَّ شَرِبَ وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا لَيَرِدَنَّ
عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي
وَبَيْنَهُمْ قَالَ أَبُو حَازِمٍ فَسَمِعَنِي النُّعْمَانُ بْنُ أَبِي عَيَّاشٍ
فَقَالَ هَكَذَا سَمِعْتَ مِنْ سَهْلٍ فَقُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ أَشْهَدُ عَلَى
أَبِي الْخُدْرِيِّ لَسَمِعْتُهُ وَهُوَ يَزِيدُ فِيهَا فَأَقُولُ إِنَّهُمْ
مِنِّي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا
سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي
“Sesungguhnya
saya akan memberikan kalian suatu lembah, dan bagi siapa yang lewat dihadapanku
maka akan meminumnya, dan barangsiapa yang minum maka tidak akan merasa haus
selamnya, dan akan diperlihatkan kepadaku suatu kaum, aku mengenal mereka dan
mereka mengenalku, namun terhalang antaraku dengan mereka, maka aku sampaika
bahwa mereka merupakan umatku, maka dikatakan sesungguhnya engkau tidak
mengetahui apa yang terjadi setelahmu. Maka akupun berkata: celaka, celaka,
bagi siapa yang berganti (agama) setelahku”. (Syaikhani)
Dalam
atsar disebutkan bahwa Ibnu Al-Mubarak menghampiri air zam-zam, meminumnya,
kemudian menghadap qiblat dan berkata:
اللَّهُمَّ إِنَّ ابْنَ الْمَوَالِ
حَدَّثَنَا عَنْ مُحَمَّدِ بْن الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ((مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ))
وَهَذَا أَشْرَبُهُ لِعَطْشِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ شَرِبَهُ.
“Ya
Allah SWT bahwa Ibnu Al-Mawal menyampaikan kepada kami dari Muhammad bin
Al-Makandari dari Jabir dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda: “Air zamzam
merupakan keuntungan bagi yang meminumnya”. Dan pada saat ini saya meminumnya
untuk menahan rasa haus pada hari kiamat, kemudian beliau meminumnya.” (Siar A’lam Nubala; 8/393)
حرف العين
العُمْرَةُ
Al-‘Umrah (Melaksanakan Umrah)
Dari
Ibnu Abbas, bahwa Nabi saw. berkata kepada wanita Anshar yang bernama Ummu
Sinan
مَا مَنَعَكِ أَنْ تَكُونِى حَجَجْتِ
مَعَنَا. قَالَتْ نَاضِحَانِ كَانَا لأَبِى فُلاَنٍ - زَوْجِهَا - حَجَّ هُوَ
وَابْنُهُ عَلَى أَحَدِهِمَا وَكَانَ الآخَرُ يَسْقِى عَلَيْهِ غُلاَمُنَا. قَالَ
« فَعُمْرَةٌ فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً. أَوْ حَجَّةً مَعِى
“Apa
yang mencegah dirimu untuk menunaikan ibadah haji bersama kami. Ia menjawab:
Dua unta yang keduanya milik Abu Fulan –suaminya- menunaikan haji dengan
anaknya dari salah satu unta tersebut, dan yang lain untuk member minum
anak-anak kami, lalu beliau bersabda: “Padahal umrah pada bulan Ramadhan sama
pahalanya dengan berhaji atau haji bersama saya.” (Muslim)
Imam
Nawawi menyebutkan bahwa makna menunaikan haji adalah derajatnya dan pahalanya
sama, bukan berarti sama dalam semua hal, menunaikan umrah pada bulan Ramadhan
tidak berarti telah menunaikan haji.
حرف الغين
الغَفْلَةُ
Al-Ghaflah (Lalai)
Kadang
terjadi sesuatu hal yang menyedihkan dikalangan umat Islam, kaum muslimin dan
muslimat, terutama di zaman kita saat ini lalai dzikir kepada Allah SWT,
padahal Ramadhan musim kebaikan, ampunan dan pembebasan dari api neraka.
Di
antara fenomena lalai tersebut ada yang berakibat pada kerasnya hati:
Melewati
malam hari dengan begadang tanpa dzikir dan tilawatil qur’an dan tidur pada
siang harinya, sehingga mengabaikan banyak waktu kewajiban shalat dan tidak
tepat waktu dalam menunaikannya.
Mengabaikan
waktu-waktu penting dengan mengikuti program-program tidak bermanfaat, seperti
nonton sinetron, malam dan siang hari, dan enggan mencari kerja yang bermanfaat
dan amal yang baik.
Banyak
melakukan pertemuan-pertemuan dan kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat yang
melalaikan, tempat sendau gurau dan mungkar.
Syaikh
Abdul Aziz bin Baz berkata: “Kewajiban bagi orang yang berpuasa dan yang
lainnya adalah bertaqwa kepada Allah SWT terhadap apa yang datang dan pergi
dari seluruh waktu-waktunya, berhati-hati terhadap perbuatan yang diharamkan
Allah SWT, seperti menyaksikan film-film telanjang yang menampakkan sesuatu
yang diharamkan untuk dilihat, nyanyian-nyanyian, alat-alat pembuat lalai,
seruan atau ajakan-ajakan yang menyesatkan… Karena perbuatan itu bagian dari
yang mungkar dan perbuatan mungkar, menyebabkan keras dan sakitnya hati, menganggap
remeh syariat Allah SWT, dan merasa berat terhadap kewajiban-kewajiban yang
telah ditetapkan oleh Allah SWT.” (Majmu fatawa Abdul Aziz bin Baz; 4/158)
حرف الفاء
الفِطْرُ
Al-Fithru (Waktu Berbuka)
Kenikmatan
bagi orang berpuasa itu ada dua: Saat berbuka dan saat berjumpa Allah karena
puasanya. Bahwa berbuka adalah penantian yang memberikan kebahagiaan tersendiri
bagi orang yang berpuasa.
Dan
ketika mendengar azan maghrib, maka ingatlah wahai saudaraku beberapa sunah
berbuka;
1. Mensegerakan berbuka. Inilah yang
membedakan sahumnya muslim dengan Yahudi dan Nasrani. Dan mengikuti sunnah
Rasulullah saw:
لاَ يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا
عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ. إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ
“Agama
ini akan terus tampak di muka bumi selama manusia mensegerakan berbuka puasa,
karena Yahudi dan Nasrani selalu mengakhirkannya.” (Abu Daud, dan Al-Albani berkata;
Isnadnya shahih)
2. Berbuka dengan ruthab (kurma basah)
atau tamar (kurma kering). Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh
Jabir berkata:
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا كَانَ الرُّطَبُ لَمْ يُفْطِرْ إِلاَّ عَلَى الرُّطَبِ، وَإِذَا لَمْ يَكُنْ
الرَّطَبُ لَمْ يُفْطِرْ إِلاَّ عَلَى التَّمْرِ
“Bahwa nabi saw jika ada
ruthab maka beliau tidak berbuka kecuali dengan ruthab, dan jika tidak ada
ruthab beliau tidak berbuka kecuali dengan tamar.” (Shahih al-jami’ as-shagir lil
Albani).
3. Berdo’a saat berbuka dengan doa yang
ma’tsur, seperti yang disebutkan dalam hadits ibnu Umar, berkata:
ذَهَبَ الظَّمأُ ، وابْتَلَّتِ العُرُوقُ
، وثَبَتَ الأجرُ إِن شاءَ اللهُ
“Telah
pergi rasa haus dan basah tenggorokan serta telah ditetapkan ganjarannya insya
Allah SWT.” (Abu
Daud dan dihasankan oleh Al-Albani).
4. Mendoakan orang yang berbuka
bersamanya. Dari ibnu Zubair berkata: Bahwa Nabi saw. jika berbuka bersama
suatu kaum bersabda:
أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ،
وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلائِكَةُ
“Telah
berbuka di sisi kalian orang-orang yang berpuasa, sedangkan Malaikat
bershalawat atas kalian.”
(Thabrani dan dishahihkan oleh Al-Albani).
حرف القاف
قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ
Qira’atul
Qur’an (Membaca Al-Qur’an)
Bulan
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an. Oleh karena Membaca Al-Qur’an
pada bulan Ramadhan merupakan aktivitas yang harus digiatkan dan diperbanyak,
siang dan malam hari. Namun yang harus diingat di sini adalah banyak terjadi
kekeliruan dalam membaca Al-Qur’an, di antaranya:
Sebagian
orang ada yang terlalu cepat (ngebut) dalam membaca Al-Qur’an untuk mengejar
target, yang kadang
kala tanpa tartil dan tadabbur
terhadap makna dan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya. Tujuan mereka
hanyalah mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu yang singkat sehingga mengabaikan
perintah Allah SWT dalam firman-Nya:
وَرَتِّلْ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً
“Dan
Bacalah Al-Qur’an dengan penuh tartil.” (Al-Muzzammil:4) dan firman Allah SWT:
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ
عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Apakah
mereka tidak mentadabburkan Al-Qur’an, atau karena hati mereka telah tertutup.” (Muhammad:24). Yang utama adalah
menyatukan dua kebaikan tersebut: Memperbanyak bacaan sambil membacanya dengan
tartil dan mentadabburkannya, terutama di bulan Ramadhan yang dimuliakan ini,
apalagi diiringi dengan memahami dan mengamalkan terhadap hukum-hukum yang
terdapat di dalamnya.
Sebagian
lain juga berambisi (semangat) membaca Al-Qur’an di siang hari namun lalai
membacanya pada malam harinya, padahal tidak ada dalil yang mengkhususkan bacaan
Al-Qur’an pada siang hari saja tanpa membacanya pada malam harinya.
Dan
sebagian lainnya juga ada yang acuh dalam membaca Al-Qur’an setelah berakhir
masa bulan Ramadhan bahkan ada sebagian lain tidak mengenal Al-Qur’an kecuali
pada bulan Ramadhan.
22
حرف الكاف
كَظْمُ الْغَيْظِ
Kadzmul
Ghaidz (Menahan Amarah)
Islam
memotivasi kita untuk menahan marah dan memberi maaf terhadap suatu kejahatan
pada sepanjang waktu dan pada setiap tempat. Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang mampu menahan amarah dan
mau memberi maaf kepada manusia dan Allah SWT mencintai orang-orang yang
berbuat baik.” (Ali
Imran:134). Dan pada bulan Ramadhan adalah merupakan waktu yang tempat untuk
menjaga diri dari sifat amarah, seperti yang diriwayatkan dalam hadits Qudsi:
قال الله: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ
لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ. وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ
فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ ، وَلاَ
يَسْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّى امْرُؤٌ
صَائِمٌ.
“Allah
SWT berfirman: “Seluruh perbuatan anak cucu Adam adalah miliknya kecuali puasa,
karena sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Akulah yang akan memberikan langsung
ganjarannya, dan puasa adalah benteng, dan jika suatu hari salah seorang di
antara kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor dan jangan berteriak, dan
jika ada salah seorang yang mencelanya atau mengajaknya bertengkar (berkelahi)
maka katakanlah; sesungguhnya aku sedang berpuasa…” (Bukhari)
Bukanlah
maksud dari puasa hanya menjaga diri dari makan dan minum saja, namun juga
mencegah diri dari akhlak-akhlak tercela, di antaranya adalah marah. Rasulullah
saw bersabda:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ
وَالشَّرْبِ فَقَطْ. إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ. فَإِنْ
سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقَلْ : إِنِّى صَائِمٌ
“Bukanlah
puasa itu menahan diri dari makan dan minum saja, namun puasa itu adalah
menahan diri dari senda gurau dan kata-kata kotor, jika ada seseorang mencelamu
atau menyakitimu, maka katakanlah kepadanya: Saya sedang berpuasa, saya sedang
berpuasa.”
(Hakim dan disahihkan oleh Al-Albani)
Dalam
hadits lain, nabi saw memberikan wasiat kepada seseorang yang meminta kepadanya
pelajaran.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ
|
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah ra, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi saw,
"Berilah saya nasihat." Beliau bersabda, "Jangan
marah." Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau
tetap menjawab, "Jangan marah." (Bukhari).
Imam
Nawawi mengatakan, "Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan
kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena
pada hakikatnya marah adalah tabi'at manusia, yang tidak mungkin bisa
dihilangkan dari perasaan manusia."
Rasulullah
saw juga pernah menasihatkan,
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ إِنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنَا إِذَا غَضِبَ
أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ
وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
Dari
Abu Dzar berkata; bahwa Rasulullah saw berkata kepada kami: "Apabila
salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia
duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring." (Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Hibban)
Dahulu
ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah saw dan
mengatakan,
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ،
قَالَ:"لا تَغْضَبْ، وَلَكَ الْجَنَّةُ
"Wahai
Rasulullah, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke
surga dan menjauhkan dari neraka." Maka beliau bersabda, "Jangan tumpahkan
kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan." (Thabrani)
Syaikh
Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rohimahulloh juga mengatakan,
"Bukanlah maksud beliau adalah melarang memiliki rasa marah. Karena rasa
marah itu bagian dari tabi'at manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya
ialah kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak
menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api
yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab
itulah anda bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun
menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang
rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal
lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya
merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan.”
Tips
Menanggulangi Kemarahan
1.
Membaca
ta'awudz yaitu, "A'udzubillahi minasy syaithanir rajiim".
2.
Mengingat
besarnya pahala orang yang bisa menahan luapan marahnya.
3.
Mengambil
sikap diam, tidak berbicara.
4.
Duduk
atau berbaring.
5.
Memikirkan
betapa jelek penampilannya apabila sedang dalam keadaan marah.
6.
Mengingat
agungnya balasan bagi orang yang mau memaafkan kesalahan orang yang bodoh.
7.
Meninggalkan
berbagai bentuk celaan, makian, tuduhan, laknat dan cercaan karena itu semua
termasuk perangai orang-orang bodoh.
Syaikh
As Sa'di mengatakan, "Sebaik-baik orang ialah yang keinginannya tunduk
mengikuti ajaran Rasulullah saw yang menjadikan murka dan pembelaannya
dilakukan demi mempertahankan kebenaran dari rongrongan kebatilan. Sedangkan
sejelek-jelek orang ialah yang suka melampiaskan hawa nafsu dan kemarahannya.
Laa haula wa laa quwwata illa billaah"..
|
23
حرف اللام
لَيْلَةُ الْقَدَرِ
Lailatul
Qadar (Malam Kemuliaan)
Lailatul
Qadar adalah malam yang istimewa, malam yang agung dari malam-malam lainnya di
bulan Ramadhan. Allah SWT berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Lailatul
Qadar lebih baik dari seribu bulan.” (Al-Qadar:3)
Dan
Nabi saw juga bersabda:
إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ
وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ
الْخَيْرَ كُلَّهُ وَلاَ يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلاَّ مَحْرُومٌ
“Bulan
Ramadhan telah datang menghampiri kalian, di dalamnya terdapat malam lebih baik
dari seribu bulan, barangsiapa diharamkan di dalamnya kebaikan, maka tidak mendapatkan kebaikan seluruhnya dan
tidak ada yang diharamkan kebaikannya kecuali dia terhalang dari kebaikan.” (Ibnu Majah dan dihasankan oleh
Al-Albani)
Ganjaran
orang yang qiyam pada malam harinya, Rasulullah saw bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ
إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang melakukan qiyam pada lailatul qadar,
dengan penuh iman dan ikhlas maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu..” (Bukhari)
Di
antara hikmah Allah SWT tidak memberitahu kapan terjadinya lailatul qadar
kepada manusia adalah agar umat Islam giat dan semangat dalam ketaatan dan
menjaga malam-malamnya (terutama 10 terakhir) Ramadhan.
Rasulullah
saw bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى
الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Bergiatlah
kalian untuk mendapatkan lailatul qadar pada malam-malam ganjil dari 10 malam
terakhir pada bulan Ramadhan.” (Bukhari)
Namun
Allah SWT memberikan tanda-tanda yang berbeda dari malam-malam lainnya.
Rasulullah saw bersabda:
لَيْلَةُ الْقَدَرِ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ
لاَ حَارَةَ وَلاَ بَارِدَةَ تصْبَحُ الشَّمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةً حَمْرَاء
“Pada
saat lailatul qadar udara begitu nyaman dan terang, tidak ada panas dan tidak
terasa dingin, pada waktu paginya matahari terbit kemerah-merahan.” (Baihaqi dan lainnya dan disahihkan
oleh Al-Albani).
Dan
dalam hadits lain disebutkan:
... وَمِنْ عَلامَةِ يَوْمَهَا تَطْلُعُ
الشَّمْسُ لا شُعَاعَ لَهَا
“..
dan diantara tanda-tanda lailatul qadar adalah siang harinya matahari terbit
tanpa ada sinar darinya.”
(Thabrani dan dihasankan oleh Al-Albani)
Namun
jangan lupa pula untuk memperbanyak bacaan doa yang ma’tsur pada malam-malam
tersebut.
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهَا قَالَتْ : قُلْت : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْت إنْ عَلِمْت أَيُّ
لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ، مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ : قُولِي : اللَّهُمَّ
إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Seperti
yang diriwayatkan oleh Aisyah, bahwa beliau berkata: Saya berkata: Wahai
Rasul, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa malam ini adalah lailatul
qadar, apa yang harus aku kerjakan? Nabi bersabda: “Ucapkanlah: “Allah SWTumma
innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu ’anni.” (Ya Allah SWT, Engkau Dzat Pengampun,
Engkau mencintai orang yang meminta maaf, maka ampunilah saya.” (Ahmad dan
disahihkan oleh Al-Albani)
Allah
SWT berfirman :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي
لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ
الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Sesungguhnya
Kami telah menurunkan Al-Qur'an pada " Lailat al qodr". Tahukah
kalian apakah " Lailat al qodr" ?. Itulah malam yang lebih utama dari
pada seribu bulan." (Al
Qodr: 1-3)
Keutamaan
Lailat al Qodr
Ayat
yang dikutip di atas jelas menunjukkan nilai utama dari " Lailat al
qodr".
Mengomentari ayat di atas Anas bin Malik ra menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan keutamaan disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah Alquran, dan zikir serta amal sosial (seperti shodaqoh dana zakat), yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu di luar malam lailat al qodr sendiri).
Mengomentari ayat di atas Anas bin Malik ra menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan keutamaan disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah Alquran, dan zikir serta amal sosial (seperti shodaqoh dana zakat), yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu di luar malam lailat al qodr sendiri).
Dalam
riwayat lain Anas bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah saw bahwa
sesungguhnya Allah SWT mengkaruniakan "Lailat al-qodr" untuk umatku,
dan tidak memberikannya kepadaumat-umat sebelumnya.
Sementara
berkenaan dengan ayat 4 surat Al-Qadr, Abdullah bin Abbas ra menyampaikan sabda
Rasulullah bahwa pada saat terjadinya lailat al qodr, para malaikat turun
kebumi menghampiri hamba-hamba Allah SWT yang sedang qiyam al lail, atau
melakukan dzikir, para malaikat mengucapkan salam kepada mereka. Pada malam itu
pintu-pintu langit dibuka, dan Allah SWT menerima taubat dari para hamba-Nya
yang bertaubat.
Dalam
riwayat Abu Hurairah ra, seperti dilaporkan oleh Bukhori, Muslim dan al
Baihaqi, Rasulullah saw juga pernah menyampaikan,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ
لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ
"Barangsiapa
melakukan qiyam (shalat malam) pada lailat al qodr, atas dasar iman serta
semata-mata mencari keridloan Allah SWT, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa
yang pernah dilakukannya." (Bukhari)
Demikian
banyaknya keutamaan lailat al qodr, sehingga Ibnu Abi Syaibah pernah
menyampaikan ungkapan al Hasan al Bashri, katanya : "Saya tidak pernah
tahu adanya hari atau malam yang lebih utama dari malam yang lainnya, kecuali '
Lailat al qodr', karena lailat al qodr lebih utama dari (amalan) seribu
bulan."
Para
ulama bersepakat bahwa "Lailat al-qodr" terjadi pada malam bulan
Ramadan. Bahkan, seperti diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Abu Dzar, dan Abu
Hurairah, lailat al-qodr bukannya sekali terjadi pada masa Rasulullah saw saja,
malainkan ia terus berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk mashlahat umat
Muhammad, sampai terjadinya hari Kiamat.
Adapun
tentang kapan persis terjadinya lailat al qodr, para ulama berbeda pendapat
disebabkan beragamnya informasi hadits Rasulullah, serta pemahaman para
shahabat tentang hal tersebut.
Sebagaimana
tersebut dibawah ini :
Lailat
al qodr terjadi pada malam 17 Ramadhan, malam diturunkannya Alquran.
Disampaikan oleh Zaid bin Arqom, dan Abdullah bin Zubair ra. (HR Ibnu Abi
Syaibah, Baihaqi dan Bukhori dalam tarikh).
Lailat
al-qodr terjadi pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululah saw, "Carilah lailat al
qodr pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan."
(Bukhori, Muslim dan Baihaqi)
Lailat
al qodr terjadi pada malam tanggal 21 Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abi
Said al Khudri yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.
Lailat
al qodr terjadi pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits
riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti diriwayatkan oleh Bukhori dan
Muslim.
Lailat
al qodr terjadi pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits
riwayat Ibnu Umar, seperti dikutip oleh Ahmad. Dan seperti diriwayatkan oleh
Ibnu Abi Syaibah, bahwa Umar bin al Khoththob, Hudzaifah serta sekumpulan besar
shahabat, yakin bahwa lailat al qodr terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan.
Rasulullah saw seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, juga pernah menyampaikan
kepada shahabat yang telah tua dan lemah tak mampu qiyam berlama-lama dan
meminta nasehat kepada beliau kapan ia bisa mendapatkan lailat al qodr,
Rasulullah SAW kemudian menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 bulan
Ramadhan (Thabrani dan Baihaqi).
Menurut
Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim,
terjadinya lailat al qodr mungkin berpindah-pindah pada malam-malam ganjil
sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sesuai dengan informasi
terakhir ini, dan karena langka dan pentingnya lailat al qodr.
Oleh
karena itu, maka selayaknya setiap muslim berupaya sungguh-sungguh untuk
mendapatkan Lailatul Qadar dalam bulan Ramadhan ini,yaitu semenjak awal hingga
akhir Ramadhan.
Adapun
tanda-tanda datangnya lailatul qadar adalah seperti yang diriwayatkan Oleh Imam
Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda,
"Pada
saat terjadinya lailat al qodr itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca
sejuk tidak terasa panas tidak juga dingin. Dan pada pagi harinya matahari
terbit dengan jernih terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan."
24
حرف الميم
المُفْطِرَاتُ
Al-Mufthirat (Perkara Yang Membatalkan)
Kaidah utama yang perlu diperhatikan dalam berbagai hal
yang membatalkan shaum adalah bahwa yang demikian tidak menyebabkan halal
berbuka jika dilakukan tanpa disengaja. Contoh-contohnya adalah sebagai
berikut: “Muntah tanpa disengaja, gigi copot, tranfusi darah, luka, mimisan
(darah yang keluar dari hidung), pengobatan akupuntur yang menggunakan jarum,
jarum suntik (injeksi), air yang menetes dari mata dan telinga, semprotan
cairan (akibat batuk penyakit asma), menelan barang mainan, masuknya air atau
lainnya ke dalam tenggorokan tanpa pilihan, mencoba makanan karena kebutuhan
tanpa ditelan, siwak, pasta gigi dengan memelihara tanpa menelan sedikitpun,
kumur-kumur, menghirup segala yang berbau (asap makanan), mencelak, memakai
inai (pacar), minyak yang membasahi kulit, mencium istri dan mimpi.’
Adapun hal-hal yang membatalkan dan wajib meng-qadha’ ada
dua bagian:
1. Hal-hal yang membatalkan dan wajib meng-qadha’ saja
seperti muntah disengaja, bekam, cuci darah, makan atau minum karena ragu
tenggelamnya matahari karena asalnya masih waktu siang.
2. Hal-hal yang membatalkan yang mewajibkan qadha’ dan
kafarah atau denda; seperti bersenggama dengan istri di siang hari; kafaratnya
memerdekakan budak, atau puasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan
kepada fakir miskin sebanyak 60 orang, dan setiap orang miskin kadarnya ½
sha’ dari makanan pokok suatu negeri.
Adapun secara detailnya, hal-hal yang dapat membatalkan
puasa dan hukum-hukumnya adalah sebagai berikut:
a. Makan dan minum secara
sengaja
Allah SWT berfirman :
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى
يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ
الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
“Dan makan
minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian
sempurnakanlahpuasa itu sampai (datang) malam, ( Al Baqarah : 187)
Maka dapat dipahami di sini bahwa puasa itu adalah puasa
dari makan dan minum, maka jika orang yang berpuasa makan dan minum maka telah
batal puasanya, dikhususkan di sini jika dilakukan dengan sengaja, karena
seorang yang berpuasa jika makan dan minum karena lupa atau salah maka tidak
mengapa.
Rasulullah bersabda :
إِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ
فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ
“Jika
seseorang lupa lalu makan dan minum maka hendaklah menyempurnakan puasanya,
karena sesungguhnya Allah SWT telah memberi makan dan minum kepadanya”. (Bukhari dan Muslim)
b. Muntah dengan di
sengaja
Karena barangsiapa yang muntah tidak sengaja maka tidak
mengapa.
Rasulullah bersabda :
مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنْ
اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ
“Barangsiapa
muntah dengan tidak disengaja maka ia tidak wajib mengganti puasanya, dan
barangsiapa yang sengaja untuk memuntahkan hendaknya mengganti puasanya”. (Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
c. Haid dan Nifas
Jika perempuan haid atau nifas pada siang hari baik awal
siang ataupun pada akhir siang (sore) maka batal puasanya dan harus mengganti
dan jika ia (terus) berpuasa, maka puasanya tidak sah.
Rasulullah bersabda :
أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ
تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا
“Bukankah
jika perempuan haid tidak shalat dan tidak berpuasa? Mereka (wanita-wanita )
berkata :Benar lalu Nabi berkata : Itulah dua kekurangan agama kaum wanita. (Bukhari)
d. Suntikan gizi
Yaitu memasukkan sebagian zat-zat gizi makanan ke usus
dengan maksud memberi gizi sebagian orang yang sakit, hal ini adalah satu macam
perbuatan yang membatalkan puasa karena memasukkan ke dalam rongga.
Dan jika suntikan tidak mencapai usus dan hanya mencapai
darah maka juga membatalkan puasa, karena hal ini keadaannya seperti makanan
dan minuman. Dan kebanyakan orang sakit yang tidak sadar dalam jangka lama,
mereka diberi zat gizi dengan perantaraan jarum ini, seperti
e. Jima’ (melakukan hubungan suami istri di siang hari)
Berkata Ibnul Qoyyim dalam kitab Zaadul Maad 2/60 : Al
Qur’an menunjukkan bahwa jima’ membatalkan puasa seperti makan dan minum, (hal
ini) tidak diketahui adanya perselisihan padanya.
Dan dalil hal ini dari Al Qur’an :
فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ
وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ
“Maka sekarang
campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah SWT untukmu”. (Al Baqarah : 187)
Maka dalam ayat di atas Allah SWT memberi izin untuk mencampuri
istri-istri, maka dipahami dari sini bahwa puasa itu adalah puasa dari jima’
,makan dan minum. Maka barangsiapa merusakkan puasanya dengan jima’ maka wajib
baginya mengganti puasanya dan kaffaarah (menebus tebusan). Dalil dari hal ini
adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ia berkata :
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ
قَالَ مَا لَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا
قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ
قَالَ لَا فَقَالَ فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا قَالَ
فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى
ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا
تَمْرٌ وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ فَقَالَ أَنَا قَالَ
خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ
اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ أَهْلُ
بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ
Bahwa Abu
Hurairah bercerita, ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah: Datang seorang lelaki lalu berkata :Wahai
Rasulullah, aku telah binasa. Nabi bertanya :Apa yang membinasakanmu? Ia menjawab : Aku telah
menyetubuhi istriku (disaat puasa) pada bulan Ramadhan. Nabi berkata : Apakah kamu mampu
membebaskan budak (untuk kaffarahnya)? Ia pun menjawab : Tidak. Lalu Nabi bertanya lagi :Apakah engkau mampu
berpuasa dua bulan berturut-turut? ia berkata: Tidak mampu. Maka Nabi bertanya
lagi :Apakah kamu mampu untuk memberi makan 60 orang miskin? ia menjawab :
tidak. Rasulullah berkata : Duduklah! maka duduklah ia. Lalu didatangkan kepada
Nabi tempat di dalamnya ada kurma. Nabi berkata : Bersedakahlah dengannya! ia
pun menjawab : Tidak ada diantara kampung kami yang lebih fakir dari kami. Abu
Hurairah berkata :Maka Nabi pun tertawa hingga nampak gigi beliau. Nabi berkata
:Ambillah ini dan berilah makan keluargamu!. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan lain-lainnya)
حرف النون
النَسْيَان
An-Nisyan (Lupa)
Orang
yang makan atau minum karena lupa padahal sedang berpuasa, maka puasanya tetap
sah namun jika dirinya ingat maka wajib atasnya memuntahkan ataupun mimunan
yang berada di mulutnya. Nabi saw. bersabda:
مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِم فَأَكَلَ
أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمه , فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّه وَسَقَاهُ
“Barangsiapa
yang lupa bahwa dia sedang berpuasa, kemudian dia makan atau minum, maka
hendaknya dia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya yang demikian adalah
Allah SWT yang memberinya makan dan minum.” (Muttafaq alaih).
Lupa
tidak perbuatan dosa, sebagaimana firman Allah SWT:
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau azab kami
jika kami lupa atau tersalah.” Al-Baqoroh:286. Maka Allah SWT swt. berfirman: “Aku menerimanya.”
Jika
ada orang yang melihatnya, maka orang tersebut wajib mengingatkannya, karena
itu bagian dari mencegah kemungkaran. Rasulullah saw bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا
فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ , فَإِنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ
“Barangsiapa
yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, namun jika tidak mampu
maka dengan lisannya dan jika tidak mampu juga maka dengan hatinya.” (Muslim)
حرف الهاء
الهِمَّةٌ العَالِيَةٌ
Al-Himmah
Al-‘Aliyah (Semangat Menggelora)
Rasulullah
merupakan contoh dan tauladan dalam memberikan semangat yang tinggi ketika
menerima suatu kewajiban untuk taat pada bulan Ramadhan, khususnya pada 10 hari
terakhir.
Dari
Aisyah ra berkata:
كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم
- إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ
أَهْلَهُ
“Bahwa
Nabi saw. jika masuk pada malam 10 hari terakhir, beliau mengencangkan ikat
pinggangnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (Bukhari)
Contoh
semangat menggelora dari Rasulullah saw dan para sahabat yang mulia adalah
keluarnya mereka untuk berjihad di jalan Allah SWT, yaitu parang pertama pada
masa Islam; perang Badar Kubra pada siang hari Ramadhan.
Dimankah
posisi kita dari mereka semua, padahal di sekiling kita banyak terdapat sarana
yang memudahkan kita untuk melakukan sesuatu pekerjaan, namuan kadang kita
justru lambat dan malas dalam menjalankan ibadah dan ketaatan.
27
حرف الواو
وَدَاعٌ رَمَضَانَ
Wada’un Ramadhan (Selamat
Tinggal Bulan Ramadhan)
Saat
berada di pintu perpisahan, hati ini merasa sedih dan gelisah, air mata
berlinang, meratapi dan menangisi kepergian bulan yang penuh berkah dan
kebaikan.
Kita
tidak mengetahui, apakah kita termasuk orang yang akan bertemu kembali pada
tahun depan atau tahun ini merupakan perpisahan terakhir… Untuk itu, kami
wasiatkan kepada semua agar bersungguh-sungguh dalam beramal shalih hingga
detik-detik akhir Ramadhan.
Ingatlah
bahwa para salafusshalih selalu berdoa kepada Allah SWT pada 6 bulan sebelumnya
agar dipertemukan dengan bulan Ramdhan dan berdoa selama 6 bulan berikutnya
agar diterima seluruh perbuatannya.
Di
atara doa mereka adalah
اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ
وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ وَتَسْلِمْهُ مِنِّي مُتَقبَّلاً
“Ya
Allah SWT, selamatkanlah daku hingga bulan Ramadhan depan, pertemukan Ramadhan
denganku, dan terimalah seluruh amalanku pada bulan Ramadhan.”
Ya
Allah SWT, temukan kami pada bulan Ramadhan, dengan mendapat ampunan-Mu,
terpelihara dari api neraka-Mu, dan pertemukan kami dan umat Islam di belahan
dunia manapun dengan bulan Ramadhan tahun depan sehingga mendapatkan limpahan
ganjaran dan ampunan-Mu.
Tidak
terasa kita sudah mencapai hari terakhir bulan Ramadhan. Semoga Ramadhan kali
ini kita dapat menyelesaikan ibadah puasa kita dengan sempurna, bukan sekedar
lapar dan dahaga saja. Kita berbahagia karena kita dapat memenuhi panggilan
Allah SWT, sementara saudara-saudara kita yang lain tidak dapat beribadah
puasa lagi karena sudah berpulang ke rahmatullah . Dan seperti setiap ibadah
dimaksudkan untuk keutamaan hidup, maka ibadah puasa ini pun semoga dapat
dilaksanakan lebih baik hendaknya dan mencapai sasaran pokok: la'allakum
tattaqum (agar kamu menjadi orang-orang yang takwa) dalam membina kehidupan
yang diridhai Allah SWT.
Alangkah
baiknya kalau dalam kesempatan ini, kita merenungkan kembali hadits-hadits
Rasulullah SAW yang berkaitan dengan ibadah puasa menjelang hari-hari terakhir
bulan Ramadhan : Diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda : "
Sesungguhnya Allah SWT Ta'ala pada setiap jam di bulan Ramadhan membebaskan
enam ratus ribu orang dari neraka, di antara mereka yang sepatutnya mendapat
siksa, sampai tiba lailatul qadar.
Sedang pada malam qadar itu, Dia membebaskan sebanyak orang yang dibebaskan
sejak awal bulan. Dan pada Hari Raya Fitri , Dia membebaskan sebanyak orang
yang dibebaskan sejak awal bulan sampai Hari Raya Fitri itu".
Dan
dari Jabir, dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda : " Apabila tiba malam
terakhir dari bulan Ramadhan, maka menangislah langit, bumi dan para malaikat
atas musibah yang menimpa umat Muhammad SAW." Seseorang bertanya :
"Ya Rasulullah, musibah apakah itu?" Jawab Rasulullah SAW : "Perginya
bulan Ramadhan. Karena sesungguhnya doa-doa di waktu itu dikabulkan,
sedekah-sedekah diterima, kebaikan-kebaikan dilipatkan, sedang azab
ditahan."
Oleh
karenanya, musibah manakah yang lebih besar daripada perginya bulan Ramadhan.
Apabila langit dan bumi saja menangis demi kita, maka kita lebih patut menangis
dan menyesal atas terputusnya keutamaan-keutamaan dan kemuliaan-kemuliaan ini
dari kita.
Dalam
hadits lain disebutkan : Tidak ada bulan yang lebih baik dari bulan Ramadhan
bagi Kaum Muslim. Orang yang berbuat dosa di antara waktu shalat fardhu yang
lima, shalat Jum'at sehingga Jum'at berikutnya, dan bulan Ramadhan hingga bulan
Ramadhan berikutnya, akan dihapuskan dosa-dosanya apabila ia melakukan ibadah
tersebut, dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa-dosa besar.
Rasulullah
SAW juga bersabda : Alangkah kecewanya orang yang sejak tiba bulan Ramadhan
hingga habis bulan tidak diberi ampunan. Orang yang seperti itu akan menyesal
karena melalaikan ibadah dalam bulan Ramadhan; demikian pula pauasanya hampa
belaka, karena tidak mendapat karunia ampunan Allah SWT.
Abu
Ayub Al-Anshari r.a. berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa
yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikutinya puasa itu dengan puasa enam hari
pada bulan Syawwal, maka pahalanya sama dengan puasa satu tahun"
(Muslim).
Kita
semua mengetahui bahwa bulan Ramadhan adalah bulan rahmat, bulan kasih sayang.
Pada bulan ini, Allah SWT melimpahkan kasih sayang-Nya pada kaum Mukmin. Pada
gilirannya, kita pun diperintahkan menyebarkan kasih sayang pada segenap
makhluk-Nya. Pada bulan Ramadhan misalnya, Allah SWT mendidik kita untuk
merasakan lapar dan dahaga, supaya tumbuh pada diri kita rasa sayang pada
mereka yang dalam hidupnya senantiasa bersahabat dengan lapar dan dahaga. Pada
akhir Ramadhan, kita wujudkan rasa kasih ini dengan mengeluarkan zakat
fitrah.
Setelah
berakhir bulan Ramadhan maka pada besok paginya umat Islam merayakan kemenangannya dengan menunaikan
shalat sunnah Idul Fitri. Mereka berkumpul dengan saudara-saudara lainnya -
sesama kaum Muslim - untuk menyampaikan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan kekuatan dan hidayah sehingga dapat menyelesaikan ibadah puasa satu
bulan penuh, mampu melewati hari-hari yang penuh ibadah dan kesucian.
Saat-saat
bahagia ketika berkumpul bersama keluarga seusai adzan maghrib telah berlalu.
Saat-saat yang indah ketika memenuhi masjid untuk menuntut ilmu, tadarus, dan
tarawih telah pergi. Saat-saat yang khidmat ketika bangun di waktu dini hari
untuk bermunajat di keheningan malam lalu dilanjutkan dengan makan sahur menjelang
azan subuh sambil berdzikir, beristighfar dan berdoa telah pergi.
Telah
pergi dan berlalu bulan yang bukan saja dipenuhi ibadah kepada Allah SWT,
tetapi juga bulan bertaburkan kasih-sayang kepada sesama hamba Allah SWT.
Seperti kata Rasulullah SAW, : " Inilah bulan yang pada awalnya
kita sebarkan kasih sayang, pada pertengahannya kita taburkan ampunan, dan pada
kahirnya kita membebaskan diri dari api neraka”.
28
حرف الياء
يَمْنَى الْحَسَنَةِ
Yamnal Hasanah (Berharap Kebaikan)
Sungguh,
siapa saja yang diberi
kebaikan dan keberkahan, maka kebaikan dan keberkahan akan mengiringinya dari
waktu ke waktu.
Syaikh
ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa kebaikan yang kedua lantaran kebaikan yang
pertama.
Oleh
karena itu, jangan engkau jadikan perpisahan dengan bulan Ramadhan sebagai
akhir dari ketaatan dan kebaikan. Bersegeralah untuk menunaikan shaum sunnah
seperti puasa 6 hari bulan syawal –setelah melakukan qadha jika ada- dan
peliharalah qiyamullail, tilawah Qur’an, shadaqoh, berbuat baik dan bermanfaat
selama hayat masih dikandung badan.
Kita
memohon kepada Allah SWT, semoga Allah SWT. memberikan akhir hidup kita dengan
amal-amal kebaikan, husnul khatimah. Ya Allah SWT terimalah amal ibadah kami
seluruhnya. Berharap semoga Allah memberikan balasan yang berlipat ganda,
diampuni segala segala dan dimasukkan golongan yang dijanjikan yaitu menjadi
orang-orang yang bertaqwa. Amin
Ramadhan Bulan Kemenangan
7 Spirit Kemenangan Ramadhan Dr. Amir
Faishol Fath
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan
atas kamu berpuasa se- bagaimana diwajibkan atas orang- orang sebelum kamu agar
kamu ber- takwa.” (QS. Al Baqarah: 183).
Ayat ini menggambarkan
urgensi ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kata kutiba menunjukkan makna bahwa
ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah wajib. Wajib karena itu kebutuhan fitrah
manusia. Allah swt. yang meciptakan manusia Dia lebih tahu hakikat fitrah ini. Dan
Dia-lah yang lebih tahu rahasia diwajibkannya puasa. Karena itu tidak ada
pilihan bagi manusia kecuali harus berpuasa. Karena itu pula Allah swt.
berfirman: kamaa ku- tiba ’alalladziina min qablikum. Artinya bahwa manusia
terdahulu juga diwajibkan berpuasa.
Sudah pasti bahwa Allah swt. tidak mungkin mensyari’atkan sesuatu yang tidak
ada gunanya. Sebab Allah maha bijak, Allah berfirman: alaisallahu bi ahkamil
haakimiin. Sudah pasti bahwa semua ibadah yang Allah ajarkan, jika benar-benar
dilaksanakan oleh manusia, akan membawa manfaat yang agung ba- gi manusia itu
sendiri. Dalam berbagai peristiwa sejarah di zaman Rasulullah saw. kita selalu
membaca bahwa kemenangan demi kemenangan justru terjadi di saat- saat umat
sedang berpuasa di bulan Ra- madhan. Ada apa dengan Ramadhan? Inilah alasan
mengapa tulisan ini secara khusus akan mengungkap rahasia kemenangan dan
hubungannya dengan Ramadhan.
Setidaknya ada tujuh spirit
kemenangan Ramadhan yang bisa di angkat dalam tulisan ini:
1. Kemenangan Atas Nafsu
Dalam kata ashiyam pada ayat
diatas terkandung makna alhabsu artinya menahan. Seorang yang berpuasa pasti
sedang menahan nafsu dengan segala di- mensinya. Bukan hanya nafsu makan dan
minum, melainkan juga nafsu hubungan seks dan nafsu memandang yang haram. Perhatikan
diri anda ketika sedang berpuasa. Apa yang anda tahan? Bukankah anda sedang
menahan diri dari yang halal? Makan dan minum itu halal bagi anda. Berhubungan
seks dengan istri anda itu juga halal. Tetapi anda tahan. Dan anda mampu
menahannya. Apa makna semua ini? Di sini nampak bahwa anda sedang bertarung
dengan nafsu anda. Anda sedang berusaha mengendalikannya. Sekalipun nafsu itu
meronta-ronta memanggil anda untuk makan di siang hari yang panas, anda tetap
mengendalikannya sampai tiba adzan Maghrib. Bila ternyata anda mampu melakukan
ini, sungguh tidak ada alasan bagi anda untuk terjatuh kepada yang haram, hanya
karena godaan nafsu. Tapi sayangnya banyak orang hanya menjadikan puasa sekedar
ritual yang mati. Mati karena hakikat puasa yang sebenarnya untuk menahan
nafsu, ternyata itu hanya dilakukan di bulan Ramadhan saja. Begitu habis
Ramadhan, tidak sedikit dari mereka yang tadinya berpuasa kembali merasa bebas
untuk berbuat dosa. Akibatnya puasa Ramadhan tidak membawa makna apa-apa bagi
hidupnya. Ibarat seorang yang makan, begitu makanan ditelan setelah itu
dimuntahkan lagi. Tentu cara hidup ber-Islam seperti ini tidak akan memberi
buah sama sekali bagi kehidupan ruhaninya. Karena itulah makna puasa yang
seharusnya menjadi titik tolak kemenangan atas hawa nafsu, itu harus tetap
dipertahankan sepanjang hayat, sebab hanya demikian hakikat ritual akan menjadi
seperti air yang di- siramkan terhadap sebuah pohon. Maka pohon itu akan
menjadi tumbuh subur, akarnya menghunjam ke bumi dan tang- kainya menjulang ke
langit. Setiap orang yang berteduh di bawahnya tidak hanya akan merasa sejuk
melainkan juga akan merasa aman dengan rindangnya.
2. Kemenangan Atas Syetan
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa
ketika tiba Ramadhan, setan-setan diikat. Nabi saw. bersabda: «Bila Ramadhan
tiba, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, sementara
setan-setan di- ikat.» (HR. Bukhari-Muslim). Ini menunjukkan bahwa iman umat
Is- lam di bulan Ramadhan harus meningkat. Karena itu kita selalu menemukan
suasana yang berbeda di bulan Ramadhan. Orang yang tadinya malas shalat
berjamaah di masjid, selama Ramadhan ia rajin ke masjid. Orang yang tadinya
tidak pernah membaca Al Qur’an, selama Ramadhan selalu membacanya. Orang yang
tadinya kikir bersedekah, selama Ramadhan menjadi dermawan. Orang yang tadinya
tidak pernah bangun waktu fajar, selama Ramadhan selalu bangun fajar dan shalat
subuh berjamaah di masjid. Orang yang tadinya tidak pernah shalat malam, sela-
ma Ramadhan wajib shalat malam. Orang yang tadinya mempertontonkan aurtanya,
selama Ramadhan menjadi wanita anggun di balik jilbab yang indah. Suasana
seperti ini menggambarkan betapa Ramadhan benar-benar membawa keberkahan bagi
umat Islam. Terasa bahwa setan benar-benar diikat. Setan tidak bisa bergerak
secara leluasa. Mengapa?
(a) Nabi saw. bersabda: “Wash shaumu
junnatun (puasa adalah penangkal dari dosa dan api neraka)” Lalu nabi
melanjutkan : «Maka ketika kalian berpuasa hen- daklah jangan berkata kotor dan
tidak mengumpat. Bila ada orang mencaci anda, katakan kapadanya: maaf aku
sedang berpuasa.” (HR. Bukhari-Muslim)
(b) Karena nafsu selama bulan puasa
dikendalikan. Begitu nafsu terkendali se- tan tidak punya jaringan untuk
bergerak. Begitu jaringanya menjadi sempit, amal-amal shaleh meningkat di
mana-mana. Begitu amal shaleh meningkat otomatis iman akan naik. Sayangnya
pemandangan ini hanya berlangsung sekejap. Selama bulan Ramadhan saja. Setelah
itu kehi- dupan yang penuh kemenangan kembali lenyap dalam gelora nafsu.
Dosa-dosa kembali dilakukan di mana-mana tanpa merasa takut sedikit pun. Jika
memang demikian, benarkah kemenangan atas setan selama Ramadhan adalah keme-
nangan sejati? Sampai kapan umat ini akan terus berpura-pura kepada Allah,
menjadi hanya seorang muslim yang baik di bulan Ramadhan saja?
3. Pahala Dilipatgandakan
Dalam sebuah hadist Rasulullah saw. bersabda:
«Setiap amal anak Adam –selama Ramadhan- dilipatgandakan menjadi sepuluh kali
lipat, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Kecuali pu- asa, Allah swt.
berfirman: Puasa itu untuk-Ku, dan Aku langsung yang akan memberikan pahala
untuk- nya.» (HR. Muslim).
Maksudnya bahwa pahala puasa bukan hanya
dilipatgandakan melainkan lebih dari itu, Allah swt. berjanji akan mem- berikan
pahala tanpa batas. Bayangkan berapa pahala yang akan didapat seseorang
sepanjang hari ber- puasa, bersedekah, menegakkan amal-amal wajib lalu
dilanjutkan dengan amal-amal sunnah. Di mana semua itu di- lipatgandakan tujuh
ratus kali lipat. Bagaimana jika seorang muslim membaca Al Qur’an dalam sehari
lebih dari satu juz. Rasulullah saw. menerangkan bahwa pahala membaca Al Qur’an
hitungannya perhuruf. Setiap huruf satu kebaikan, dilipatgandakan menjadi se-
puluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Itulah rahasia, mengapa para
ulama terdahulu begitu masuk Ramadhan mereka belomba-lomba mengkhatamkan Al
Qur’an tanpa batas. Ada yang men- gkhatamkan sehari sekali. Ada yang sehari dua
kali.
Yang selalu saya baca dalam Manaqib Imam
Syafi’ie adalah bahwa ia selalu mengkhatamkan Al Qur’an selama Ramadhan 60 kali
khatam. Apa yang menarik di sini bukan logis atau tidaknya, melainkan kesungguhan
mereka dalam mengkhatamkan Al Qur’an. Itulah spirit yang harus kita ambil.
Bahwa Allah akan menilai amal shaleh kita dari usaha maksimal yang kita
lakukan. Inilah makna ayat: “Fattaqullaha mas tatha’tum (maka bertaqwalah
kepada Allah semaksimal kemampuanmu).” (QS. At Ta- ghabun:16)
4. Dosa-dosa Diampuni
Minimal ada tiga ibadah dalam Rama- dhan
yang secara tegas Rasulullah saw. mengkaitkan dengan ampunan dosa-dosa
terdahulu:
Pertama, ibadah puasa. Nabi saw. bersabda:
“Man shaama Ramadhaana iimaanan wah tisaaban ghufira lahu maa taqaddama min
dzambihi (Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan kesadaran iman dan penuh harapan
ridha Allah, akan diampuni semua dosa-dosa yang lalu.» (HR. Bukhari- Muslim).
Kedua, ibadah shalat malam (baca:
tarawih). Nabi saw. bersabda: “Man qaama Ramadhaana iimaanan wah tisaaban
ghufira lahu maa taqaddama min dzambihi (Siapa yang menegakkan shalat malam
Ramadhan dengan kesadaran iman dan penuh harapan ridha Allah, akan diampuni
semua dosa-dosa yang lalu.» (HR. Bukhari-Muslim).
Ketiga, Ibadah shalat malam lailatul qadr.
Nabi saw. bersabda: “Man qaama lailatal qadri iimaanan wah tisaaban ghufira
lahu maa taqaddama min dzambihi (Siapa yang menegakkan shalat malam pada malam
lailatul qadar dengan kesadaran iman dan penuh harapan ridha Allah, akan
diampuni semua dosa-dosa yang lalu.» (HR. Bukhari-Muslim).
Perhatikan ketiga hadits di atas, betapa
ibadah Ramadhan yang akan menjadi penyebab ampunan dosa bukan hanya puasa,
melainkan ada juga ibadah shalat malam sepanjang Ramadhan termasuk pada malam
lailatul qadar. Tetapi sayangnya banyak orang Islam hanya mengambil puasanya
saja, semen- tara ibadah-ibadah lain yang tidak kalah pentingnya dengan puasa
diabaikan. Akibatnya tujuan Ramadhan yang sebenarnya merupakan bulan ampunan dosa,
tidak tercapai secara maksimal. Banyak orang beralasan sibuk mencari nafkah dan
lain sebaginya, sehingga tidak sempat memaksimalkan semuanya itu. Perhatikan
Rasulullah saw. sekalipun sehar-harinya sibuk berdakwah, pada bulan Ramadhan
masih menambah lagi amal-amal ibadah yang melebihi hari-hari biasanya. Apakah
cukup dengan hanya beralasan bahwa mencari nafkah juga ibadah, lalu mengabaikan
membaca Al Qur’an, shalat malam dan lain seba- gainya?
5. Doa-Doa Dikabulkan
Seorang yang sedang berpuasa doanya mustajab.
Sebab ia sedang dalam kondisi menahan nafsu. Setan-setan tidak mende- katinya.
Karenanya ia lebih dekat kepada Allah swt. Ketika ia dalam kondisi sangat dekat
kepada Allah swt., maka doanya akan mudah diterima. Karena itu Nabi saw.
menganjurkan agar orang-orang yang sadang berpuasa banyak-banyak berdoa. Para
ulama mengatakan: disunnahkan bagi orang yang sedang berpuasa selalu
mengucapkan dzikir, memanjatkan doa, sepanjang hari selama berpuasa. Sebab
puasa membuat pelakunya semakin dekat kepada Allah swt. Orang-orang yang dekat
kepada Allah swt. doanya mustajab.
Berdzikir dan berdoa selama puasa memang
sangat dianjurkan sepanjang hari. Tetapi berdzikir dan berdoa pada saat
menjelang buka puasa sangat ditekankan dan diutamakan. Nabi saw. bersabda: “Orang
yang berpuasa doanya tidak ditolak, terutama menjelang berbuka.” (HR. Ibn
Majah, sanad hadits ini sahih).
Ibn Umar ra. meriwayatkan bahwa Nabi saw.
men- jelang buka puasa selalu berdoa: “Dzahabazh zhomau wabtallatil ’uruuqu watsabatal ajru insyaa Allahu
ta’aalaa (Dahaga telah pergi, kerongkongan telah basah, semoga Allah memberikan
pahala)” Abdullah bin Amru ra. Selalu membaca doa berikut sebelum buka puasa:
“Allahumma as’aluka birohmatikallati wasi’at kulla syai’ antaghfira lii
dzunuubii (Ya Allah aku mohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang mencakup segala
sesuatu, agar Engkau mengampuniku.” Imam At Turmidzi meriwayatkan sebu- ah
hadits dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda: “Tiga orang yang doanya tidak
per- nah ditolak: Pemimpin yang adil, seorang yang sedang berpuasa sampai ia
berbuka, orang yang di- zholimi.”
Jelasnya bahwa selama puasa Rama- dhan
iman hamba-hamba Allah swt. se- dang naik, mereka selalu bangun malam
menegakkan shalat, mereka selalu mem- baca Al Qur’an, mereka selalu bersede-
kah, mereka jauh dari dosa-dosa, mereka bertobat minta ampunan Allah swt. dan
sebagianya. Semua itu merupakan suasana yang dukung mendukung membuat turunnya
keberkahan dari Allah swt. Semakin ba- nyak keberkahan yang turun, semakin
mudah doa yang kita panjatkan dikabulkan oleh Allah swt.
6. Raih Lailatul Qadr
Dalam surah Al Qadr: 35- Allah swt.
menerangkan keagungan malam lailatul qadr: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari
seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan
izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan
sampai terbit fajar.” Inilah malam yang sangat Allah swt. agungkan. Pada malam lailatul qadar ini Allah
swt. pernah menurunkan Al Qur’an. Bukan hanya itu, setiap malam lailatul qadar
Allah memberikan kesempatan ke- pada hamba-hamba-Nya untuk menutupi kekurangan
masa lalunya dengan ber- ibadah menegakkan shalat, berdzikir dan membaca Al
Qur’an. Bayangkan paha- lanya khusus dan luar biasa. Tidak bisa dibandingkan
dengan pahala beribadah selama 1000 bulan. Kata khairun pada ayat di atas menunjukkan makna lebih
baik, bukan sama. Perhatikan betapa keutamaan ibadah pada malam lailatul qadar,
hendaklah diraih dengan sungguh- sungguh. Perhatikan kata khairun min alfi
syahrin (lebih baik dari seribu bulan). Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya,
pernah melakukan hitung-hitungan tentang hakikat seribu bulan itu. Beliau
menga- takan: 1000 bulan = 84 tahun tiga bulan.
Saya mencoba merenungkan hakikat ini. Saya
menemukan betapa angka ter- sebut menggambarkan usia terpanjang rata-rata
manusia. Artinya, bila kita pikir-pikir ayat tersebut, kita akan segera
mengambil kesimpulan bahwa beribadah pada malam lailatul qadar masih lebih
hebat pahalanya dibanding dengan pahala ibadah sepanjang hidup. Tetapi maksudnya
di sini bukan lantas merasa cukup dengan ibadah pada malam lailatul qadar lalu
setelah itu tidak beribadah sepanjang hayat? Ini salah. Itu maksudnya adalah:
(a) bahwa kita secara normal menyadari
bahwa masih banyak ibadah yang kurang maksimal, atau bahkan sangat kurang.
Perlu adanya back up pahala, untuk me- nutupi kekurangan-kekurangan itu.
(b) Kita seharusnya –selama hidup- selalu
beribadah kepada Allah untuk menutupi nikmat-nikmat-Nya yang tidak pernah
putus. Tetapi karena kesibukan yang demikian banyak, serta kelemahan iman yang
kita punya, tentu banyak kondisi yang tidak bisa dipenuhi. Allah swt. yang Maha
Pengasih memberikan peluang agar kita bisa mengimbangi nik- mat-nikmat
tersebut. Karenanya dibuka- lah malam lailatul qadar. Rasulullah saw.
memberikan tuntunan agar lailatul qadar itu diburu pada se- puluh malam
terakhir Ramadhan. Ter- utama malam-malam ganjil: 21, 23, 25, 27, 29. Banyak
para sahabat dan para ulama yang menekankan secara khusus malam tanggal 27
Ramadhan. Tetapi demikian, mereka menganjurkan agar tidak mencukupkan hanya
dengan malam tanggal 27 saja. Sebab tidak mustahil malam lailatul qadar itu
akan terjadi pada malam-malam lainnya. Karena itu hendaknya seorang hamba Allah
swt. selalu bangun setiap malam. Karena tidak ada yang tahu pasti kapan dan
tanggal berapa sebenarnya lailatul qadar itu terjadi. Karena itu sebagian
sahabat mengatakan: “Siapa yang yang
bangun mene- gakkan shalat setiap malam sepan- jang tahun ia pasti dapat
keisti- mewaan lailatul qadar.” Sebenarnya lailatul qadar ini adalah suatu
kesempatan yang sangat istimewa dan sangat mahal. Seharusnya setiap orang yang
beriman bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Seharusnya mereka menyesal seumur
hidupnya ketika tidak terlibat dalam perlombaan ini. Padahal Allah swt. telah
berfirman: “fastabiqul khairaat (berlomba- lombalah kalian dalam kebaikan.”
(QS. Al Baqarah:148). Tetapi sayangnya banyak orang beriman tidak tertarik
dengan perlombaan. Apakah mereka telah merasa kebanyakan pahala, sehingga
merasa cukup dengan pahala amal yang selama ini mereka kerjakan? Coba pikirkan
seberapa persenkah pahala yang kita dapatkan dibanding dengan pahala para
sahabat Nabi saw.? Nabi saw. bersabda: “Janganlah kau mengejek sahabat-
sahabatku, demi Allah, seandainya kau infakkan emas sebasar gunung Uhud pahala
yang kau dapatkan itu tidak akan mencapai segenggam atau separuhnya dari pahala
yang mereka dapatkan.” Perhatikan sedemikian agungnya paha- la para sahabat
itu, itupun mereka masih berlomba-lomba meraih malam lailatul qadar.
7. Kejar Level Taqwa
Ayat tentang puasa di atas, ditutup dengan
la’allakum tattaquun (agar kamu bertaqwa). Artinya bahwa tujuan utama puasa
Ramadhan adalah untuk membangun kesadaran taqwa dalam pribadi seorang muslim.
Taqwa seperti yang dikatakan Ubay bin Ka’ab ra. Kepada Umar bin Khaththab:
bahwa orang yang betaqwa itu seperti orang berjalan di tempat yang banyak
durinya. Kanan-kiri bawah atas ada duri. Bayangkan apa yang dia lakukan? Tentu
ia sangat berhat-hati, jangan sampai duri itu menggores tubuhnya. Begitu juga
taqwa. Anda berhati-hati dari pandangan yang haram seperti anda berhati-hati
dari duri, itu taqwa. Anda berhat-hati dari harta haram, jangan sampai barang
itu masuk ke perut anda, atau ke perut istri dan anak anda, seperti anda
berhati-hati dari duri, itu takwa. Anda berhati-hati dari dosa-dosa kecil
apalagi besar seperti anda berhat-hati dari duri itu taqwa. Perhatikan betapa
taqwa merupakan totalitas kehati-hatian seorang hamba dalam menjalankan
ketaatan kepada Allah swt., jangan sampai sedikit pun dari apa yang dia lakukan
dimurkai Allah swt. Itulah rahasia mengapa Allah swt. mengikat pada ayat di
atas antara puasa (ash shiyam) dengan taqwa. Sebab ketika seorang berpuasa dia
telah mengendalikan nafsunya. Dan hanya dengan mengendalikan nafsu sese- orang
secara bertahap akan naik ke le- vel taqwa. Karena itu dalam Al Qur’an masalah
taqwa merupakan tema sentral. Ketika Allah swt. menceritakan pe- dihnya siksaan
neraka itu sebenarnya su- paya orang bertaqwa. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakar- nya adalah manusia dan
batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak men-
durhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)
Begitu juga ketika Allah swt. menceritakan
keindahan surga dan kelezatan makanan dan minuman di dalamnya, itu tidak lain
supaya manusia bertaqwa. Lebih dari itu, banyak ayat dalam Al Qur>an yang
menekankan pentingnya bersikap taqwa:
(a) di pembukaan surah Al Baqarah Allah
swt. langsung menceritakan sifat- sifat orang yang bertaqwa.
(b) Dalam surah Ali Imran:133 Allah
menegaskan bahwa surga dipersiapkan untuk mereka yang bertaqwa: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan
untuk orang- orang yang bertakwa.”
(c) Dalam surah Al Hujuraat: 13 Allah swt.
menunjukkan bahwa paling mulianya manusia adalah orang-orang yang paling bertaqwa.
(d) Dalam surah Al Qashash:83 Allah
menerangkan bahwa kemenangan itu hanya
milik orang-orang yang betaqwa: “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk
orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Dan ke- sudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Dalam surah Al Qalam:34. lagi-lagi Allah swt. menceritakan indahnya surga yang
dipersiapkan untuk mereka yang bertaqwa:
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga- surga
yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.”
,
Labels:
Ramadhaniyat
Thanks for reading Abjadiyat Amaliyah Ramadhan. Please share...!

0 Comment for "Abjadiyat Amaliyah Ramadhan"